Ekonomi Digital di Palembang Didukung Pembayaran Modern

  • 27 Des 2025 08:07 WIB
  •  Palembang

KBRN, Palembang: Di era yang serba cepat, transaksi tidak lagi terbatas pada uang tunai. Mulai dari belanja online, bayar transportasi, pesan makanan, hingga membeli kopi, kini semua dapat dilakukan hanya melalui smartphone. Tren ini membuat digital payment semakin diminati dan berkembang pesat.

Dosen Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya, Agung Putra Raneo, menjelaskan, ekonomi digital adalah kegiatan ekonomi yang memanfaatkan teknologi, jaringan, dan data. "Salah satu bagian dari ekonomi digital adalah digital payment, yaitu segala bentuk transaksi yang menggunakan teknologi untuk menggantikan metode konvensional, seperti pembayaran tunai," ungkap Agung dalam acara Ekonomi Digital RRI, Jumat (26/12/25).

Menurut Agung, peran digital payment saat ini sangat penting. “Kalau dilihat dari perkembangan ekonomi global yang serba digital, digital payment ibarat jalan tol dalam kegiatan ekonomi. Fungsinya memudahkan transaksi dan mempercepat arus ekonomi, sehingga perannya sangat vital dalam kehidupan sehari-hari, terutama untuk menunjang berbagai kegiatan ekonomi,” katanya.

Agung menambahkan, perkembangan penggunaan pembayaran digital semakin pesat dalam beberapa tahun terakhir. Salah satunya melalui program tahunan Bank Indonesia, Jelajah QRIS, yang bertujuan meningkatkan literasi dan penggunaan digital payment. Program ini terbukti mendorong pertumbuhan transaksi digital.

Berdasarkan data BI, khususnya di Provinsi Sumatera Selatan, pada 2024 tercatat sekitar Rp 1,24 triliun transaksi menggunakan QRIS. Dari jumlah tersebut, sekitar 63–65% berasal dari Kota Palembang, menunjukkan bahwa penggunaan digital payment telah melampaui 50% populasi di wilayah ini.

Data terbaru hingga akhir 2024 menunjukkan tren penggunaan digital payment yang terus meningkat sepanjang 2025, sehingga perkembangannya sangat pesat. Agung menekankan, ke depan penggunaan digital payment harus disertai kebijakan dan pengelolaan keuangan yang bijak. “Kita tidak mungkin menolak penggunaan QRIS, karena semua orang sudah menggunakannya. Jika kita bersikap lambat atau tidak bijak, justru akan menyusahkan diri sendiri,” jelasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....