Kopi Sumsel Bidik Rusia, Barantin Perkuat Sertifikasi UMKM
- 10 Sep 2026 10:35 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang - Badan Karantina Indonesia (Barantin) terus memperkuat pendampingan sertifikasi bagi pelaku UMKM. Pendampingan itu dilakukan agar komoditas seperti Kopi Liberika Sumsel mampu memenuhi persyaratan dan membuka jalan menuju pasar ekspor.
Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Karantina, Wisnu Wasisa Putra, mengatakan, Barantin terus mendorong peningkatan kapasitas pelaku UMKM yang ingin merambah pasar internasional. Salah satu langkah nyata melalui Klinik Ekspor yang tersedia di kantor karantina di seluruh Indonesia
“Klinik Ekspor ini menjadi ruang konsultasi pelaku usaha untuk memperoleh informasi dan pendampingan langsung terkait persyaratan serta proses sertifikasi ekspor komoditas. Layanan tersebut dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk memahami persyaratan negara tujuan sebelum melakukan ekspor,” ujar Wisnu, Rabu, 9 September 2026.
Menurutnya, membuka pasar ekspor tidak dapat dilakukan pelaku usaha sendiri. Kolaborasi antara Barantin, pemerintah daerah, UMKM, dan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri diperlukan agar produk mampu memenuhi persyaratan negara tujuan.
Sementara itu, Kepala Karantina Sumatera Selatan Sri Endah Ekandari mengatakan, Sumatera Selatan menyumbang sekitar 27 persen produksi kopi nasional. Kopi Liberika menjadi salah satu komoditas yang mulai mendapat perhatian untuk dikembangkan ke pasar internasional.
Menurutnya peluang tersebut juga ditopang tren ekspor kopi Sumatera Selatan dalam beberapa tahun terakhir. “Komoditas ekspor harus dipastikan memenuhi persyaratan sejak dari daerah asal sehingga aman, sehat, bermutu, dan dapat diterima oleh negara tujuan,” kata Sri.
Pada 2024, ekspor kopi Sumsel tercatat sebanyak tiga kali pengiriman dengan nilai Rp1,5 miliar. Setahun kemudian, frekuensinya meningkat menjadi 14 kali pengiriman dengan nilai mencapai Rp12,1 miliar.
Kopi Sumatera Selatan telah dikirim ke sejumlah negara, antara lain Malaysia, Australia, Arab Saudi dan Singapura. Sementara hingga Juli 2026, ekspor kopi Sumsel tercatat mencapai 8,7 ton dengan nilai Rp652 juta, dengan Australia sebagai tujuan utama.
“Melalui pendampingan tersebut, Barantin berharap UMKM tidak hanya mampu menghasilkan kopi berkualitas. Tetapi juga memahami persyaratan teknis yang diperlukan untuk memasuki negara tujuan,” pungkas Sri Endah
Dengan kesiapan dari tingkat petani, pelaku usaha hingga sertifikasi, kopi Liberika Sumatera Selatan diharapkan dapat memperluas jejak ekspornya dan membuka peluang baru di pasar Rusia.
Atase Perdagangan Indonesia di Moskow, Ardianto Mahdi Wibowo, melihat Rusia sebagai salah satu pasar yang potensial bagi kopi Indonesia. Dengan populasi lebih dari 144 juta jiwa dan kopi Indonesia yang telah memiliki pijakan di negara tersebut, peluang untuk memperluas pasar dinilai masih terbuka.
“Eksportir harus mempersiapkan produk sejak awal agar memenuhi berbagai ketentuan yang berlaku di Rusia. Mulai dari standar keamanan pangan, sertifikasi, pelabelan, hingga ketertelusuran produk,” tegasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....