Pusri Dorong Ibu-Ibu Kampung Sehati Sulap Seragam Bekas Jadi Peluang Usaha

  • 07 Sep 2026 17:40 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Pusri menggelar Pelatihan Keterampilan Menjahit Kampung Sehati untuk meningkatkan keterampilan dan kemandirian ekonomi perempuan.
  • Peserta diajak mengolah seragam bekas menjadi produk upcycle yang fungsional dan berpotensi memiliki nilai jual.
  • Program menerapkan prinsip 3R sebagai bagian dari upaya mengurangi limbah tekstil dan mendorong ekonomi sirkular.

RRI.CO.ID, Palembang - Seragam kerja yang sudah tidak terpakai biasanya berakhir di tempat sampah atau menumpuk begitu saja. Namun, bagi ibu-ibu Kampung Sehati binaan PT Pusri Palembang, pakaian bekas justru bisa menjadi bahan baku untuk menghasilkan barang baru yang fungsional sekaligus bernilai ekonomi.

Peluang itu diperkenalkan Pusri melalui Pelatihan Keterampilan Menjahit Kampung Sehati bertema “Jahit Kreatif, Mandiri Produktif”. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Program Kampung Sehati yang diarahkan untuk meningkatkan keterampilan dan kemandirian ekonomi perempuan sekaligus mengenalkan praktik ekonomi sirkular kepada masyarakat.

Dalam pelatihan, peserta tidak hanya belajar teknik dasar menjahit. Mereka juga diajak mengolah kembali baju seragam bekas menjadi berbagai produk upcycle yang masih dapat digunakan dan memiliki potensi untuk dipasarkan.

Pendekatan tersebut membuat barang yang sebelumnya dianggap tidak berguna memiliki fungsi baru. Kreativitas dan keterampilan menjahit menjadi penghubung antara upaya mengurangi limbah tekstil dengan peluang menciptakan sumber pendapatan tambahan bagi keluarga.

VP TJSL Pusri, Rahmawati, mengatakan, program tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam membangun pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.

“Melalui Pelatihan Menjahit Kampung Sehati ini, kami ingin mendorong masyarakat, khususnya ibu-ibu, agar dapat meningkatkan keterampilan dan kreativitas sekaligus melihat peluang ekonomi dari barang-barang yang sebelumnya tidak lagi digunakan,” ujar Rahmawati dalam keterangan tertulis, Senin, 7 September 2026.

Menurut Rahmawati, seragam bekas yang selama ini tidak terpakai masih dapat diolah menjadi produk baru yang fungsional dan memiliki nilai jual. Karena itu, keterampilan yang diperoleh peserta diharapkan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi berkembang menjadi peluang usaha.

“Baju seragam bekas dapat diolah menjadi produk baru yang fungsional dan memiliki nilai jual. Harapannya, keterampilan ini dapat terus dikembangkan dan menjadi peluang usaha bagi masyarakat,” ujarnya.

Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) untuk mengurangi timbulan limbah tekstil. Masyarakat didorong mengubah cara pandang terhadap barang bekas, dari sekadar limbah menjadi material yang masih memiliki nilai guna.

Rahmawati menambahkan, pendekatan itu juga sejalan dengan konsep Creating Shared Value (CSV). Melalui konsep tersebut, program pemberdayaan diharapkan tidak hanya memberi manfaat sosial, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat sekaligus memberikan dampak positif terhadap lingkungan.

Bagi Pusri, keterampilan menjahit menjadi salah satu pintu masuk untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat Kampung Sehati. Produk hasil upcycle yang dibuat peserta nantinya memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh, baik untuk kebutuhan sendiri maupun menjadi produk usaha.

Semangat “Limbah Jadi Berkah, Sampah Jadi Rupiah” pun menjadi pesan yang ingin dibangun dari kegiatan tersebut. Di tengah persoalan limbah tekstil yang terus berkembang, kreativitas masyarakat menjadi salah satu cara untuk memperpanjang usia pakai barang sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....