Lawan Penurunan Alami, PHR Zona 4 Genjot Produksi Minyak Eksisting
- 14 Jul 2026 18:25 WIB
- Palembang
Poin Utama
- PHR Zona 4 melampaui target produksi semester I 2026 dengan menambah 1.549 BOPD minyak (125% dari target YTD) melalui 27 rencana kerja pengeboran sumur pengembangan.
- Strategi keberhasilan berfokus pada pengendalian natural decline di level 15-20% melalui pemeliharaan optimal fasilitas artificial lift dan surface facility.
- PHR Zona 4 menerapkan dua teknologi canggih untuk sisa 2026: step out drilling di empat lapangan (Adera, Prabumulih, Ramba, Limau) dan dual completion di empat sumur strategis untuk efisiensi produksi.
RRI.COID, Prabumulih - Mengelola lapangan minyak yang telah berusia tua (mature field) ibarat merawat atlet veteran. Tantangannya berat karena tekanan reservoir terus menurun dan cadangan hidrokarbon kian menipis. Namun, Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 menolak menyerah pada penurunan alamiah (natural decline) tersebut demi menjaga ketahanan energi nasional.
Hingga paruh pertama tahun ini, rapor kerja mereka terbukti gemilang. Sepanjang 1 Januari hingga 30 Juni 2026, PHR Zona 4 sukses merealisasikan 27 rencana kerja pengeboran sumur pengembangan. Hasilnya? Tambahan minyak sebesar 1.549 barel per hari (BOPD) berhasil dikuras, atau setara 125 persen melampaui target year to date (YTD). Secara total, produksi Semester I 2026 menginjak angka 27.500 BOPD untuk minyak dan 506 MMSCFD untuk gas.
General Manager PHR Zona 4, Djudjuwanto, menegaskan bahwa kunci keberhasilan ini terletak pada kedisiplinan para pimpinan lapangan (field manager) dalam menjaga fasilitas eksisting agar penurunan produksi alami bisa ditekan di angka 15-20 persen.
"Kami menargetkan pimpinan field menjaga natural decline dengan memastikan performa artificial lift (pompa angguk/buatan), surface facility, dan fasilitas lainnya tetap prima. Dengan demikian, saat ada keberhasilan pengembangan sumur baru, produksi akan langsung bertambah, bukan hanya habis untuk menutupi penurunan yang terjadi secara alamiah," kata Djudjuwanto melalui keterangan tertulis, Selasa, 14 Juli 2026.
Untuk sisa tahun 2026, PHR Zona 4 tidak mengendurkan gas. Mereka membidik 100 rencana kerja pengeboran pengembangan dengan target suntikan produksi baru sebesar 4.479 BOPD. Dua jurus teknologi disiapkan.
Pertama, metode step out drilling alias mengebor di luar batas area yang sudah terbukti produktif untuk mencari perpanjangan reservoir. Strategi ini akan diterapkan di empat lapangan Pertamina EP (PEP), yakni Field Adera, Prabumulih, Ramba, dan Limau, dengan menyasar enam sumur strategis.
Jurus kedua adalah menerapkan sistem dual completion. Ini adalah metode canggih yang memungkinkan Pertamina memproduksi minyak dari dua lapisan reservoir berbeda secara bersamaan hanya melalui satu sumur penambangan. Efisiensi ini akan diterapkan di Sumur BNG-D14, BNG-D19, BNG-B7 (Adera Field), dan sumur GNK-PD80 (Prabumulih Field).
"Ide besar dari setiap pengeboran yang kami lakukan adalah tidak hanya menghasilkan minyak hari ini, tetapi juga membuka peluang penemuan cadangan baru guna mendukung keberlanjutan operasi di masa mendatang," lanjut Djudjuwanto.
Menariknya, di balik target agresif pengurasan minyak ini, PHR Zona 4 justru memperketat urusan keselamatan kerja. Melalui prinsip Stop Work Authority (SWA), pekerja lini terdepan (frontliners) diberikan hak penuh untuk menghentikan operasional jika melihat ada potensi bahaya, tanpa perlu takut mendapat sanksi dari atasan.
Uniknya, agar pesan keselamatan ini benar-benar meresap ke sanubari para pekerja lapangan yang mayoritas warga lokal, seluruh aturan dan rambu K3 (Safety) diterjemahkan ke dalam bahasa sehari-hari khas Sumatra Selatan.
Bagi Pertamina, keselamatan bukanlah rem yang menghambat laju bisnis. "HSSE (Health, Safety, Security, and Environment) itu investasi, bukan hambatan. Kami menemukan fakta di lapangan bahwa peningkatan kedisiplinan keselamatan kerja justru berbanding lurus dengan peningkatan produksi migas," pungkas Djudjuwanto.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....