Daya Beli Menurun, Pedagang Burung Pasar 16 Ilir Palembang Tetap Bertahan
- 04 Jul 2026 06:00 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Aidil, pedagang burung di Pasar 16 Ilir Palembang, telah menjalankan usaha ini selama tiga tahun sebagai sumber mata pencaharian utama meskipun penjualan berfluktuasi
- Hari Minggu adalah waktu paling ramai bagi penjualan burung, sementara hari biasa jumlah pembeli tidak menentu dengan pembeli berasal dari Palembang dan luar daerah
- Burung anakan puyuh paling diminati pembeli dengan harga berkisar Rp100 ribu hingga Rp350 ribu, sementara burung kacer dan jalak memiliki harga jual tertinggi dengan kualitas dan kesehatan sebagai penentu harga
RRI.CO.ID, Palembang - Pedagang burung di Pasar 16 Ilir, Palembang, masih bertahan di tengah menurunnya jumlah pembeli. Meski kondisi penjualan tidak menentu, usaha tersebut tetap dijalankan karena menjadi sumber mata pencaharian, Jumat, 3 Juli 2026.
Pedagang burung, Aidil, mengaku telah menjalani usaha tersebut selama tiga tahun. Ia memilih tetap berjualan karena sulit mendapatkan pekerjaan lain.
"Sudah tiga tahun saya berjualan burung. Kalau berhenti jualan, saya juga bingung mau kerja apa karena sekarang cari pekerjaan susah," katanya.
Aidil mengatakan kondisi penjualan berubah-ubah setiap hari. Hari Minggu menjadi waktu paling ramai, sedangkan pada hari biasa jumlah pembeli sering kali tidak menentu.
Pembeli yang datang tidak hanya berasal dari Kota Palembang, tetapi juga dari luar daerah. Meski begitu, jumlah pembeli tidak menentu dari hari ke hari.
"Kalau hari Minggu biasanya paling ramai. Hari biasa kadang ramai, kadang sepi, jadi tidak bisa dipastikan," ucapnya.
Aidil mengatakan anakan burung puyuh menjadi jenis yang paling banyak diminati pembeli. Sementara itu, burung kacer dan jalak menjadi jenis burung dengan harga jual tertinggi.
Harga burung yang dijual berkisar Rp100 ribu hingga Rp350 ribu. Perbedaan harga ditentukan oleh kualitas, kondisi kesehatan, dan suara burung.
Sebelum dijual, burung dirawat setiap hari dengan diberi makan, dimandikan, serta diperdengarkan suara burung lain agar rajin berkicau. Aidil mengaku hanya menjual burung tanpa menyediakan pakan maupun perlengkapan lainnya.
Menurut Aidil, tantangan terbesar saat ini adalah perubahan harga burung di pasaran. Meski demikian, ia menilai usaha jual beli burung masih memiliki peluang. Menurutnya, minat anak muda memelihara burung sebagai hobi masih cukup tinggi.
"Saya berharap pemerintah bisa lebih memperhatikan pedagang burung agar usaha kami kembali ramai. Semoga perdagangan burung kembali normal dan lebih lancar. Saya juga berharap masyarakat yang memelihara burung dapat merawat burungnya dengan baik agar tetap sehat dan memiliki kicauan yang bagus," tutupnya.
Laporan Aditya Dwi Permana, mahasiswa magang Fakultas Ilmu Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....