Lima Risiko Konten Viral yang Sering Diabaikan Marketer
- 25 Feb 2026 12:02 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang - Konten viral kerap dianggap sebagai tujuan utama kampanye pemasaran digital. Namun, viralitas tidak selalu berdampak positif bagi keberlanjutan merek.
Fenomena ini kembali dibahas praktisi pemasaran Ignasius Untung dalam kanal edukasi marketing Marketeers TV pada 20 Februari 2026. Ia mengingatkan bahwa viral bukan tujuan, melainkan sekadar metode.
Menurutnya, banyak pemasar terjebak pada angka jangkauan dan tayangan. Padahal, esensi pemasaran tetap pada penjualan dan penguatan merek.
“Tanpa relevansi dengan brand, viral hanya menjadi hiburan mahal,” ujarnya dalam tayangan tersebut. Ia menekankan bahwa konten harus tetap selaras dengan identitas merek.
Risiko pertama adalah tidak berkelanjutan. Konten viral diibaratkan seperti virus yang cepat menyebar, tetapi juga cepat meredup. Tanpa strategi lanjutan, efeknya tidak bertahan lama.
Risiko kedua menyangkut salah sasaran audiens. Viral sering menarik perhatian pengguna FOMO atau pembeli musiman. Lonjakan penjualan bisa terjadi, tetapi sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
Ia menjelaskan, “User FOMO akan datang dan pergi. Kalau target membesar karena itu, mempertahankannya akan berat.” Kondisi ini berisiko memicu keputusan investasi yang keliru.
Risiko ketiga adalah mengabaikan segmentasi produk. Tidak semua kategori cocok memainkan strategi viral, terutama merek premium yang memiliki batasan citra. Konten yang terlalu sensasional justru dapat merusak persepsi eksklusivitas.
Keempat, viral kerap hanya berfungsi sebagai amplifikasi. Banyak konten menjangkau banyak orang, tetapi gagal menjual produk. Akibatnya, brand awareness tidak berbanding lurus dengan konversi.
Ia mengingatkan, “Kita ini content marketer, bukan content creator. Tujuan kita menjual, bukan sekadar viral.” Karena itu, fokus harus tetap pada tujuan bisnis.
Risiko kelima adalah kerusakan citra jangka panjang. Dampak negatif tidak selalu terlihat dalam hitungan hari. Namun, konsistensi konten yang tidak relevan dapat mengikis kredibilitas merek secara perlahan.
Ignasius mencontohkan fenomena lonjakan penjualan saat pandemi. Banyak perusahaan berekspansi agresif karena permintaan tinggi, tetapi kesulitan saat tren mereda.
Ia menilai viralitas bisa diibaratkan doping. Memberi dorongan cepat, tetapi tidak bisa diandalkan terus-menerus. Tanpa strategi fundamental, brand rentan goyah.
Karena itu, ia menyarankan pemasar memahami posisi merek dan karakter produknya. Viral boleh dimanfaatkan, tetapi tetap harus terukur dan relevan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....