Lawan Budaya Nongkrong, Komang Sulap Remaja OKU Jadi Penjaga Tari Bali
- 22 Agt 2026 05:55 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Komang Ngurah Subawa, tokoh muda berusia 22 tahun, mengambil inisiatif pada 2018 untuk memberikan wadah ekspresi bagi generasi muda di Desa Makarti Jaya, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), yang kerap berkumpul tanpa arah hingga larut malam.
- Desa Makarti Jaya adalah kawasan perdesaan yang dihuni oleh warga keturunan transmigran Bali, di mana potensi generasi muda dikhawatirkan akan terancam menguap tanpa adanya wadah ekspresi yang tepat.
- Komang merangkul para tokoh masyarakat dalam upayanya untuk mengubah pemandangan rutin anak-anak muda berkumpul tanpa arah menjadi sebuah gerakan positif yang bermanfaat bagi pengembangan potensi generasi.
RRI.CO.ID, OKU- Kebiasaan anak-anak muda berkumpul tanpa arah di pinggir jalan hingga larut malam kerap menjadi pemandangan lazim di kawasan perdesaan. Namun bagi Komang Ngurah Subawa, pemandangan rutin di Desa Makarti Jaya, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), itu justru menyulut kecemasan mendalam.
Di desa yang dihuni warga keturunan transmigran Bali ini, potensi generasi muda terancam menguap jika terus dibiarkan tanpa wadah ekspresi yang tepat. Pada 2018, saat masih berusia 22 tahun, Komang mengambil langkah berani dengan merangkul para tokoh masyarakat.
“Setelah saya berdiskusi dengan tokoh masyarakat setempat, akhirnya memutuskan untuk mendirikan Rumah Belajar Sekaa Nguda yang memiliki arti 'anggota pemuda'. Tempat tersebut dibentuk sebagai pusat pembelajaran kreatif dan budaya Hindu Bali di Desa Makarti Jaya,” ujar Komang, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Langkah kecil tersebut memicu perubahan besar. Para pemudi jenjang SMP dan SMA mulai diajari tari-tarian persembahan pura seperti Tari Rejang Dewa. Sementara para pemuda digembleng menabuh gamelan Bali. Rutinitas nongkrong tak tentu arah yang dulu membuang waktu perlahan luntur, berganti jadwal latihan intensif tiga kali sepekan.
Konsistensi kelompok ini menarik perhatian PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Ogan Komering pada 2023. Perusahaan migas tersebut turun tangan membenahi sarana penunjang, mulai dari perbaikan alat musik, pengadaan seragam tari, hingga pelatihan kewirausahaan kreatif agar wadah budaya ini berdaya secara ekonomi.
Suntikan dukungan itu membuat Rumah Belajar Sekaa Nguda kian mengepakkan sayap. Mereka merambah kelompok usia dini (8–12 tahun) yang dinamai Sekaa Rare secara gratis.
Kini, para anggota tidak sekadar berlatih di dalam sanggar. Mereka aktif tampil mengisi acara keagamaan di Pura maupun agenda kemasyarakatan. Fee hasil pentas dikelola secara transparan untuk kas pura dan kas operasional anggota. Bahkan, mereka telah sukses menggelar festival budaya sebanyak empat kali untuk hiburan masyarakat luas.
Perubahan positif ini dirasakan langsung oleh para orang tua di Desa Makarti Jaya. Komang Muliawan Purnawan, salah satu orang tua siswa, mengaku lega melihat perkembangan mental dan karakter anaknya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....