Kisah Frans Mendur, Pengabadian Detik Proklamasi yang Mengubah Sejarah

  • 09 Agt 2026 12:34 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Frans Sumarto Mendur salah satu fotografer yang berhasil mengabadikan detik detik proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia yang sampai saat ini tetap dikenang menjadi bagian dari sejarah.
  • Tepat tanggal 2 Oktober 1946 Frans dan para wartawan mendirikan kantor berita Indonesian Press Photo Service merupakan kantor berita independen pertama di Indonesia.
  • Ketika Frans dan Alex tutup usia belum menerima penghargaan atas perjuangannya.

RRI.CO.ID, Palembang - Frans Sumarto Mendur menjadi salah satu tokoh penting di balik dokumentasi Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Melalui bidikan kameranya, momen bersejarah yang menandai lahirnya bangsa Indonesia berhasil diabadikan dan menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah nasional.

Dikutip dari laman Pusat Studi Arsip Statis Kepresidenan, Frans lahir di Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara, pada 1913. Ia merupakan adik dari Alex Impurung Mendur yang lebih dahulu menekuni dunia jurnalistik dan fotografi.

Ketertarikan Frans terhadap fotografi tumbuh setelah belajar bersama Alex yang bekerja sebagai wartawan harian berbahasa Belanda Java Bode. Sebelum menekuni profesi fotografer, Frans sempat bekerja sebagai juru tulis di Departement van Burgerlijke Openbare Werken.

Frans bersama Alex berhasil mengabadikan pembacaan Proklamasi Kemerdekaan oleh Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta, pada 17 Agustus 1945. Dokumentasi tersebut diambil menggunakan kamera Leica milik Frans.

Setelah proklamasi dibacakan, tentara Jepang melakukan razia untuk mencegah tersebarnya berita kemerdekaan Indonesia ke luar negeri. Dalam razia tersebut, kamera dan film negatif milik Alex dirampas, namun tiga gulung film negatif hasil jepretan Frans berhasil diselamatkan.

Film negatif itu disembunyikan oleh Djamilah, istri Frans Mendur, di bawah rumpun pohon pisang dan ditutup menggunakan kaleng minyak tanah. Berkat keberanian tersebut, dokumentasi Proklamasi Kemerdekaan berhasil diselamatkan dari penyitaan tentara Jepang.

Perjuangan tidak berhenti pada penyelamatan film negatif. Frans dan Alex harus mencuci serta mencetak foto secara sembunyi-sembunyi di sekitar Kantor Domei yang kini menjadi Kantor Berita Antara, dengan risiko ditangkap, dipenjara, bahkan dijatuhi hukuman mati.

Enam bulan kemudian, tiga foto Proklamasi Kemerdekaan karya Frans Mendur untuk pertama kalinya dipublikasikan melalui Harian Merdeka edisi 17 Februari 1946. Dokumentasi tersebut kemudian menjadi bukti visual paling penting dari peristiwa bersejarah lahirnya Republik Indonesia.

Pada 2 Oktober 1946, Frans bersama sejumlah wartawan mendirikan Indonesian Press Photo Service (IPPHOS), yang dikenal sebagai kantor berita foto independen pertama di Indonesia. Selain berkarya sebagai fotografer, Frans juga terlibat dalam perjuangan kemerdekaan dengan memimpin Barisan Pelopor bersama para pemuda di kawasan Petojo, Jakarta.

Pengabdian Frans dan Alex Mendur baru memperoleh penghargaan dari negara beberapa dekade setelah keduanya wafat. Pada 9 November 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan Bintang Jasa Utama sebagai bentuk penghormatan atas jasa mereka dalam mendokumentasikan sekaligus memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....