Kopi Palembang, Warisan Dakwah dan Persaudaraan di Tepian Musi

  • 24 Jun 2026 16:21 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang - Kopi bukan sekadar minuman bagi masyarakat Palembang. Di balik aroma dan cita rasanya, tersimpan sejarah panjang yang berkaitan dengan perdagangan, dakwah Islam, serta kehidupan sosial yang tumbuh di tepian Sungai Musi sejak berabad-abad lalu.

Hal tersebut disampaikan pengelola Kopi Cap Sendok Emas, Abu Bakar Syukri, saat berbincang dengan RRI, Minggu, 21 Juni 2026. Menurutnya, sejarah kopi di Palembang tidak dapat dipisahkan dari kedatangan para pedagang Arab yang berlayar ke Nusantara melalui jalur perdagangan maritim.

“Dari Sufi ke Musi itu menceritakan bagaimana kopi masuk ke Palembang melalui perdagangan dan dakwah. Pedagang Arab datang melalui jalur laut, kemudian menetap di pinggiran Sungai Musi. Mereka membangun tempat beristirahat dan beribadah sekaligus menyebarkan agama Islam,” ujarnya.

Abu Bakar menjelaskan para pedagang Arab membawa kopi sebagai bagian dari kebutuhan sehari-hari. Minuman tersebut digunakan untuk membantu menjaga stamina saat beribadah pada malam hari dan perlahan menjadi bagian dari aktivitas sosial masyarakat.

Menurutnya, kopi kemudian berkembang menjadi media silaturahmi dan komunikasi. Melalui tradisi berkumpul sambil menikmati kopi, para pedagang memperkenalkan nilai-nilai keagamaan sekaligus membangun hubungan dengan masyarakat setempat.

Ia menuturkan masyarakat Palembang mulai mengenal budaya minum kopi sejak kedatangan pedagang Arab pada abad ke-15. Sementara itu, budidaya kopi berkembang lebih luas pada abad ke-17 setelah Belanda membawa bibit kopi dan mengembangkannya di berbagai wilayah Nusantara.

“Belanda membawa bibit kopi dan menanamnya terlebih dahulu di Jawa. Setelah berhasil, kopi kemudian dibawa ke Palembang, terutama ke wilayah Semendo yang hingga kini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi terbaik di Sumatera Selatan,” katanya.

Lebih jauh, Abu Bakar menilai kopi memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial masyarakat Palembang. Kehadirannya tidak hanya sebagai minuman, tetapi juga simbol kebersamaan yang mempererat hubungan antarsesama.

Dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan, kopi menjadi sajian sederhana yang sarat makna. Kehadirannya mencerminkan budaya masyarakat yang menjunjung tinggi silaturahmi, kebersamaan, dan kepedulian sosial.

“Dulu saat tahlilan, takziah, atau kegiatan keagamaan lainnya, masyarakat cukup menyediakan kopi. Orang datang bukan untuk mencari makanan, tetapi untuk menunjukkan rasa persaudaraan dan kepedulian kepada sesama,” ujarnya.

Ia menambahkan tradisi menyuguhkan kopi saat takziah selama beberapa hari setelah seseorang meninggal dunia menjadi bagian dari budaya gotong royong masyarakat Palembang. Tradisi tersebut menunjukkan bagaimana kopi hadir sebagai simbol kehangatan dan penguat hubungan sosial di tengah masyarakat.

Abu Bakar mengajak generasi muda untuk memahami bahwa secangkir kopi tidak hanya menyimpan cita rasa, tetapi juga merekam perjalanan sejarah, dakwah, dan persaudaraan yang telah tumbuh sejak lama di tepian Sungai Musi.

“Dari para sufi dan pedagang Arab hingga masyarakat Palembang masa kini, kopi tetap menjadi medium yang menyatukan berbagai kalangan dalam semangat kebersamaan,” tuturnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....