Jejak Palembang dan Mataram Terhubung lewat Candi Angsoko

  • 14 Mei 2026 12:15 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang - Palembang sebagai kota tertua di Nusantara menyimpan banyak jejak sejarah yang menghubungkan wilayah-wilayah besar di masa lampau. Salah satunya terlihat dari keberadaan Candi Madi Ing Angsoko yang diyakini memiliki kaitan erat dengan hubungan Palembang dan Mataram Islam.

Peneliti makam kuno, Muhammad Setiawan atau yang akrab disapa Cek Wan, mengungkapkan, keberadaan situs tersebut tak bisa dilepaskan dari sejarah panjang Palembang. Candi Madi Ing Angsoko disebut berada tidak jauh dari kawasan Candi Welang di wilayah Sudirman, Palembang.

Cek Wan menjelaskan, hingga kini sejumlah penamaan kawasan di Palembang masih menyimpan istilah “candi” sebagai penanda kuat jejak masa lalu.

“Ada beberapa toponimi yang sampai hari ini masih menyebut istilah candi di Kota Palembang. Yang paling masyhur Candi Welang, lalu Candi Madi Ing Angsoko atau Candi Angsoko yang saat ini menjadi kawasan pemakaman,” ujar Cek Wan, kepada RRI pada Selasa, 12 Mei 2026.

Pemerhati sejarah, Mang Dayat, menilai kawasan tersebut kemungkinan besar menyimpan lebih banyak struktur peninggalan kuno yang belum terungkap sepenuhnya. Berdasarkan cerita masyarakat setempat, di wilayah itu pernah ditemukan struktur jalan dan bangunan lama.

“Sebenarnya tidak menutup kemungkinan bahwa di wilayah ini terdapat banyak candi-candi, karena adanya perubahan lapisan sejarah dari masa Sriwijaya kemudian ke masa kesultanan dari Hindu-Buddha yang kemudian beretnik Islam. Berdasarkan banyak penelitian sejarawan akhirnya terjadi banyak penghancuran pada candi ini,” kata Mang Dayat.

Menurut Cek Wan, nama Candi Madi Ing Angsoko berasal dari sosok Pangeran Angsoko. Setelah wafat, sang pangeran disebut mendapat gelar Pangeran Madi Ing Angsoko karena dimakamkan di bawah pohon angsoka atau asoka.

“Pangeran ini memiliki latar belakang sejarah yang menyedihkan. Dia mati dibunuh dan dimakamkan di bawah pohon angsoka,” ungkapnya.

Dari kisah itu, lanjut Cek Wan, tersimpan legasi penting tentang posisi Palembang pada masa menjadi bagian dari Mataram Islam. Hubungan keduanya disebut terjalin dalam bentuk kerja sama yang saling menguntungkan.

Cek Wan juga menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke Kotagede, kawasan yang menjadi pusat awal Kerajaan Mataram. Di Masjid Kotagede, ia melihat mimbar khotbah yang menurut penuturan abdi dalem keraton merupakan hadiah dari Palembang untuk Mataram pada masa lampau.

Temuan dan cerita sejarah itu memperlihatkan bahwa hubungan Palembang dan Mataram bukan sekadar catatan politik, melainkan juga meninggalkan jejak budaya dan simbol-simbol yang masih dapat ditemukan hingga hari ini.

Jejak tersebut menjadi pengingat bahwa Palembang memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah Nusantara yang patut terus dipelajari dan dilestarikan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....