Berambak, Tradisi Anyam Tikar Pedamaran Sarat Nilai Sosial

  • 24 Apr 2026 08:47 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang – Tradisi berambak yang berasal dari kawasan Pedamaran, Sumatera Selatan, kembali menjadi perhatian sebagai salah satu warisan budaya lokal yang kaya makna sosial dan seni.

Pemerhati budaya Pedamaran, Suparman Guluk, menjelaskan bahwa berambak merupakan aktivitas menganyam tikar dari bahan purun. Kegiatan berambak ini, bahkan telah dikembang menjadi pertunjukan seni yang dipadukan dengan tarian dan lagu.

“Berambak itu menganyam tikar, sekarang sudah diciptakan lagu dan tarinya. Pertunjukanya bahkan sudah sampai ke tingkat nasional,” ujarnya ketika menjelaskan bersama RRI, Kamis, 23 April 2026.

Ia menuturkan, berembak tidak hanya sekadar kegiatan kerajinan, tetapi juga menjadi media interaksi sosial, khususnya di kalangan remaja pada masa lalu. Aktivitas ini kerap diiringi dengan nyanyian dan nginco, yakni percakapan santai antara laki-laki dan perempuan yang menyerupai tradisi berbalas pantun.

Dalam praktiknya, berembak juga dikenal dengan istilah incang-incangan, yaitu saling berbalas syair atau pantun yang bersifat spontan. Syair tersebut biasanya berisi kisah kehidupan sehari-hari, mulai dari percintaan hingga kondisi sosial masyarakat.

Incang-incangan itu seperti pantun bersahutan, menceritakan kisah. Bisa tentang orang yang ingin sekolah tinggi, atau cerita kehidupan lainnya,” jelasnya.

Namun, Suparman menyayangkan mulai berkurangnya minat generasi muda terhadap tradisi ini. Ia menyebutkan, saat ini kegiatan berambak lebih banyak dilakukan oleh ibu-ibu, sementara keterlibatan remaja semakin menurun.

“Dulu gadis-gadis banyak ikut. Sekarang sudah jarang, mungkin karena sudah punya pekerjaan lain,” katanya.

Selain sebagai hiburan, berambak juga mengandung pesan moral dan keagamaan yang disampaikan melalui syair-syairnya. Pesan tersebut dapat disesuaikan dengan tema yang diangkat, termasuk nasihat kehidupan hingga nilai religius.

Ia berharap tradisi berambak tetap dilestarikan dan dapat terus dikenalkan kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas budaya lokal.

“Sayang kalau hilang. Ini bukan hanya kerajinan, tapi juga cerita dan nilai kehidupan masyarakat Pedamaran,” tutupnya.






google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....