Kunci Tumbuh Kembang Anak Berkebutuhan Khusus Ada di Penerimaan Orang Tua
- 04 Okt 2026 11:35 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) memiliki keunikan, kebutuhan dan potensi berbeda sehingga perlu perlakuan dan pendampingan yang sesuai dengan kondisi serta kemampuan masing masing.
- potensi anak perlu digali tidak hanya fokus dengan keterbatasannya.
- Orang tua diharapkan tidak berhenti terus berusaha untuk mendampingi anak yang berkebutuhan khusus, karena dengan penerimaan, dukungan keluarga secara konsisten akan membuat anak berkembang sesuai potensinya,
RRI.CO.ID, Palembang - Pendampingan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) menuntut pendekatan personal yang cermat. Setiap anak memiliki keunikan, kebutuhan, dan potensi yang berbeda, sehingga pola penanganan tidak bisa disaratkan secara seragam.
Pengelola Pusat Terapi Sekolah Bina Potensi sekaligus Pengurus Form Komunikasi Keluarga Anak dengan Kebutuhan Khusus (Forkesi) Sumsel, Subiyarti, menegaskan, fase krusial pendampingan ABK berawal dari dalam rumah, yakni penerimaan jujur dari pihak orang tua.
"Intervensi sejak dini akan memberikan kesempatan lebih besar untuk belajar secara konsisten, baik di pusat terapi atau lingkungan keluarga," kata Subiyarti dalam dialog Ruang Disabilitas dan Inklusi yang disiarkan RRI Palembang, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Menurut Subiyarti, menerima kondisi anak memang bukan perkara mudah bagi sebagian orang tua. Namun, sikap terbuka tersebut menjadi fondasi utama sebelum menentukan metode pendidikan maupun jenis terapi yang tepat.
Ia mengingatkan agar orang tua tidak menggantungkan seluruh proses tumbuh kembang anak kepada lembaga atau pusat terapi semata. Pembiasaan di rumah justru memegang peranan vital agar proses belajar berlangsung tanpa putus.
Langkah awal kemandirian bisa dipupuk dari aktivitas harian yang sederhana. Anak dilatih untuk belajar makan sendiri, mengenakan pakaian, mandi, hingga menyelesaikan tugas-tugas ringan sesuai dengan batas kemampuannya.
Di samping pemenuhan kebutuhan dasar, fokus pendampingan juga harus diarahkan pada penggalian minat. Keterbatasan fisik maupun kognitif tidak boleh memadamkan bakat tersembunyi yang dimiliki anak.
"Orang tua perlu menggali potensi anak, tidak hanya fokus pada keterbatasannya. Kalau anak tertarik pada seni musik, misalnya, orang tua dapat mengembangkan kemampuannya dengan pendampingan yang sesuai," ujarnya.
Dari sisi edukator dan pendidik, pendekatan belajar wajib disesuaikan dengan respons serta kecenderungan gaya belajar anak—baik visual, auditori, maupun kinestetik.
Meski demikian, dukungan keluarga saja belum cukup. Keberhasilan integrasi ABK ke tengah masyarakat membutuhkan ekosistem yang ramah dan inklusif. Aksesibilitas fasilitas publik, ruang publik yang aman, serta kesetaraan kesempatan sosial menjadi hak mendasar yang harus dipenuhi bersama.
"Orang tua diharapkan tidak berhenti terus berusaha untuk mendampingi anak yang berkebutuhan khusus. Sebab dengan penerimaan dan dukungan keluarga yang konsisten, anak akan berkembang sesuai potensinya," tutur Subiyarti.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....