Sanggar Sastra RRI Palembang Jadi Warisan Budaya Selama 60 Tahun

  • 15 Sep 2026 08:54 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Sanggar Sastra RRI Palembang berperan sebagai pusat pelestarian tradisi literasi dan kesusastraan yang tumbuh bersama perjalanan bangsa Indonesia.
  • Komunitas ini menjadi tempat lahir dan berkembangnya para penulis, pembaca puisi, serta pegiat sastra di wilayah Sumatera Selatan.
  • Keberadaan Sanggar Sastra RRI Palembang tidak terpisahkan dari sejarah panjang Radio Republik Indonesia dalam menghadirkan edukasi dan kebudayaan kepada masyarakat melalui siaran radio.

RRI.CO.ID, Palembang - Sanggar Sastra RRI Palembang terus menjaga tradisi literasi dan kesusastraan yang tumbuh bersama perjalanan bangsa Indonesia. Komunitas tersebut menjadi ruang lahirnya para penulis, pembaca puisi, serta pegiat sastra Sumatera Selatan.

Keberadaan Sanggar Sastra RRI Palembang tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang Radio Republik Indonesia. Tradisi sastra melalui siaran radio itu menjadi bagian dari perjalanan RRI dalam menghadirkan edukasi dan kebudayaan kepada masyarakat.

Redaktur Sanggar Sastra RRI Palembang, Rita Sumarni, menyampaikan hal tersebut dalam acara Obrolan Komunitas Sanggar Sastra di Studio Pro 1 RRI Palembang, Senin, 7 September 2026. Ia menjelaskan Sanggar Sastra memiliki peran besar dalam mengembangkan kreativitas sastra di Sumatera Selatan.

Rita mengungkapkan Sanggar Sastra bersama pendirinya, Buya Zainal Abidin Hanif, berhasil membangun ruang apresiasi sastra bagi masyarakat. Menurutnya, program tersebut tetap bertahan meski mengalami perubahan nama dan pola penyiaran sejak 1966.

"Selama lebih dari 60 tahun banyak anugerah yang tidak ternilai harganya bersama Sanggar Sastra RRI Palembang, termasuk hadirnya banyak penulis, deklamator, dan deklamatoris berbakat sebagai kado terindah pada ulang tahun RRI ke-81," ujarnya.

Perjalanan panjang Sanggar Sastra juga tercermin melalui berbagai karya puisi yang dibacakan dalam kegiatan tersebut. Salah satunya puisi berjudul "Rumah Kita" karya Susi Mahyuddin yang menggambarkan RRI sebagai ruang bersama untuk belajar dan berkarya.

Rita menjelaskan puisi tersebut memiliki pesan tentang RRI sebagai rumah rakyat yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkembang. Karya itu juga menggambarkan nilai pendidikan, kedamaian, dan kebersamaan dalam perjalanan kehidupan.

Selain itu, puisi "Mengudaralah" karya Susi Mahyuddin menggambarkan kemampuan RRI beradaptasi dengan perubahan teknologi. Karya tersebut menegaskan radio tetap memiliki peran penting bagi masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di wilayah terpencil.

Rita juga menjelaskan makna puisi "O RRI Palembang Kapan Menjadi Tua" karya Anto Narasoma. Menurutnya, karya tersebut menggambarkan keberadaan RRI yang tetap relevan meskipun zaman terus berubah.

"RRI tetap dapat dinikmati masyarakat meskipun perkembangan teknologi semakin maju, karena radio memiliki kedekatan dengan pendengar dan tidak pernah kehilangan perannya," tuturnya.

Ia menambahkan Sanggar Sastra RRI Palembang akan terus menjadi bagian dari sejarah kebudayaan daerah. Pergantian kepemimpinan di lingkungan RRI tidak menghilangkan semangat komunitas untuk menjaga tradisi sastra.

Rita berharap generasi muda dapat melanjutkan perjalanan Sanggar Sastra dengan menghadirkan karya-karya baru. Ia menilai sastra menjadi salah satu cara menjaga nilai budaya dan memperkuat hubungan RRI dengan masyarakat.

"Semoga RRI tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, terutama Sanggar Sastra, karena semua kebutuhan pendengar ada di RRI. Jadilah RRI kebanggaan negeri dan rumah rakyat Indonesia," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....