Resep Kepemimpinan dan Keluarga Lewat Akhlak Rasulullah
- 12 Sep 2026 08:15 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Rasulullah memiliki akhlak yang sangat mulia baik sifat utama Rasulullah, keteladanan dalam kehidupan yang semuanya patut untuk kita teladani menjadi tuntunan dalam menjalankan kehidupan di dunia menuju akhirat.
- adapun empat sifat utama Rasulullah yaitu Siddiq (jujur dan benar) dimana kejujuran akan membawa kebahagiaan.
- Marilah kita selalu mempraktikkan sifat Siddiq, Amanah, Tabligh dan Fathanah demi terciptanya keluarga yang harmonis dan masyarakat yang tentram serta kepemimpinan yang adil,"
RRI.CO.ID, Palembang - Di tengah gempuran krisis keteladanan dan perubahan sosial yang begitu cepat, sosok Nabi Muhammad SAW tetap menjadi kompas moral paling sahih. Empat sifat utamanya—Siddiq (jujur), Amanah (terpercaya), Tabligh (menyampaikan kebenaran), dan Fathanah (cerdas)—bukan sekadar riwayat sejarah, melainkan resep praktis navigasi hidup di dunia menuju akhirat.
Penyuluh Agama Islam Kabupaten Lahat, Ustaz M. Paidi, membedah secara mendalam bagaimana empat pilar karakter tersebut seharusnya dihidupkan kembali dalam ruang keluarga hingga ranah publik.
Sifat kejujuran (Siddiq) dan keterpercayaan (Amanah), menurut Paidi, merupakan fondasi paling krusial yang mulai tergerus zaman. Amanah tidak hanya berbicara tentang jabatan, tetapi juga tanggung jawab mendasar orang tua dalam menanamkan nilai agama, seperti mengaji dan salat kepada anak-anak sejak dini.
"Kejujuran akan membawa kebahagiaan. Sementara Tabligh adalah keberadaan dakwah dengan benar tanpa mengurangi atau ditambah, dan Fathanah merupakan kecerdasan terbaik yang berlandaskan Al-Qur'an," kata Ustaz Paidi saat mengisi program udara Mutiara Pagi Pro 1 RRI Palembang, Sabtu, 5 September 2026.
Lebih dari sekadar pemimpin spritual, Rasulullah adalah potret nyata seorang kepala rumah tangga yang hangat. Beliau menanggalkan keagungan posisinya saat memasuki rumah, berganti menjadi sosok suami dan ayah yang penuh kasih sayang serta sigap membantu urusan domestik.
Kelembutan interaksi dalam rumah tangga ini tecermin dari pola komunikasi yang jauh dari kesan intimidatif. Salah satu benteng pertahanan keharmonisan keluarga adalah menahan diri dari tutur kata yang kasar.
"Untuk meneladani akhlak dan karakter Rasulullah, salah satunya hindari bertutur kasar terutama pada pasangan dan keluarga," jelas Paidi.
Ia mencontohkan bagaimana Siti Khadijah RA memperlakukan Rasulullah dengan begitu lembut—menenangkan dan menyelimutinya saat beliau pulang dari Gua Hira dalam keadaan gemetar. Sebuah teladan emosional yang kian langka di era modern.
Tak heran jika keagungan karakter, kerendahan hati, dan gaya hidup bersahaja Rasulullah mengundang decak kagum dari berbagai belahan dunia. Tokoh kemanusiaan asal India, Mahatma Gandhi, bahkan terang-terangan mengakui betapa besarnya pengaruh kesederhanaan dan keteguhan janji yang dimiliki Nabi Muhammad SAW.
Di tingkat publik, kepemimpinan yang rendah hati, penuh kesabaran, serta mengedepankan musyawarah tanpa memaksakan kehendak menjadi warisan berharga yang sangat dinantikan masyarakat hari ini.
"Marilah kita selalu mempraktikkan sifat Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah demi terciptanya keluarga yang harmonis dan masyarakat yang tenteram serta kepemimpinan yang adil," pungkas Paidi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....