Cegah Hoaks Bencana, Miss Hijab Lingkungan Ajak Saring sebelum Sharing

  • 27 Agt 2026 17:40 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Generasi muda diajak memverifikasi informasi sebelum menyebarkan kabar bencana di media sosial.
  • Cross-check dari berbagai sumber penting dilakukan untuk mencegah penyebaran hoaks dan kepanikan.
  • Sikap kritis diperlukan untuk memahami perbedaan data dan menyaring informasi digital secara bijak.

RRI.CO.ID, Palembang - Miss Hijab Lingkungan Sumatera Selatan 2026, Mariska Pratiwi, mengajak generasi muda untuk memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya di media sosial. Ajakan ini disampaikan menyusul maraknya hoaks yang beredar di tengah isu bencana alam belakangan ini.

Mariska mengungkapkan, masyarakat kerap langsung menyebarkan informasi bencana tanpa memastikan kebenarannya terlebih dahulu. Hal tersebut ia sampaikan dalam siaran Obrolan Komunitas Pro 4 RRI Palembang, Senin, 24 Agustus 2026.

"Informasi itu harus benar-benar dipastiin banget, jangan langsung disebar-sebar aja," ujar Mariska. Ia menyebut informasi yang belum terverifikasi berpotensi menyesatkan dan menimbulkan kepanikan di masyarakat.

Mariska menjelaskan, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mencari ulang informasi tersebut melalui berbagai sumber di media sosial. Ia menekankan pentingnya mencocokkan data dari beberapa pihak sebelum mempercayai sebuah kabar.

"Kita tuh harus cari informasi lagi, apakah informasi itu emang beneran real atau cuma hoax," katanya. Mariska menegaskan langkah cross check penting dilakukan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh berita yang belum jelas kebenarannya.

Mariska turut menyoroti perbedaan data jumlah titik api antara citra satelit dan data resmi pemerintah di sejumlah wilayah. Ia menyebut selisih data tersebut kerap dimanfaatkan pihak tertentu untuk kepentingan yang tidak bertanggung jawab.

Sedangkan selisih data titik panas atau hotspot dari citra satelit BMKG sering terjadi karena perbedaan disebabkan beberapa faktor. Faktor seperti sumber sensor, waktu pengamatan, ambang batas suhu (threshold), serta metode pengolahan data bisa menyebabkan data yang didapat juga berbeda-beda.

Mariska berharap generasi muda tidak mudah terpancing untuk ikut menyebarkan informasi tanpa dasar yang jelas. Ia menegaskan sikap kritis terhadap informasi penting dimiliki generasi muda di tengah derasnya arus informasi digital saat ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....