Ular hingga Musang: Cara Komunitas SSAC Ubah Hama Jadi Satwa Asuh
- 22 Agt 2026 05:40 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Komunitas South Sumatera Animal Community (SSAC) merupakan wadah bagi para pencinta hewan terutama hewan yang dianggap masyarakat sebagai hama.
- Bentuk kegiatan sosial ke masyarakat berupa edukasi bukan hanya untuk masyarakat tapi juga untuk sekolah dan Universitas
- Diharapkan untuk generasi muda yang mencintai hewan yang dianggap hama untuk bergabung bersama SSAC, banyak manfaat yang akan dirasakan
RRI.CO.ID, Palembang - Bagi sebagian besar masyarakat, keberadaan ular, biawak, atau musang kerap memicu kepanikan dan langsung dicap sebagai hama berbahaya yang wajib dibasmi. Namun, di tangan sekelompok anak muda Kota Palembang, stigma menakutkan itu perlahan dikikis menjadi bentuk kepedulian ekologis.
Lewat bendera South Sumatera Animal Community (SSAC), belasan pencinta satwa ini mendedikasikan diri untuk menjembatani hubungan antara manusia dan hewan-hewan liar yang sering dimusuhi tersebut.
Ketua SSAC, Zakariya yang akrab disapa Jek, mengungkapkan bahwa komunitas yang berdiri sejak 2014 ini sempat membeku saat pandemi COVID-19 menghantam pada 2020. Kendati demikian, api kepedulian tak padam. SSAC kembali bangkit dan aktif menggalang gerakan sejak 2023, kini diperkuat sekitar 40 anggota aktif yang berbasis di kawasan KM 5 Palembang.
"Hewan yang dianggap masyarakat sebagai hama seperti ular, biawak, musang, jika kita sayangi maka akan terjalin komunikasi yang baik. Inilah yang menjadi bahan edukasi dari SSAC sebagai bentuk kepedulian," ujar Jek saat menjadi narasumber acara Obrolan Komunitas di Studio Pro 1 RRI Palembang, Minggu, 16 Agustus 2026.
Edukasi yang diusung SSAC tak sekadar teori. Komunitas ini secara berkala menyasar ruang-ruang edukasi formal hingga ke tingkat perguruan tinggi.
"Bentuk kegiatan sosial ke masyarakat berupa edukasi, bukan hanya untuk masyarakat umum tapi juga masuk ke sekolah dan universitas, seperti di UIN Raden Fatah jurusan Biologi," tegas Zakariya.
Respons civitas akademika pun mengejutkan. Banyak mahasiswa yang semula asing atau takut, justru berbalik tertarik setelah memahami peran biologis satwa-satwa tersebut sebagai penyeimbang rantai makanan. Tak sedikit dari mereka yang kemudian memutuskan bergabung dalam barisan keanggotaan SSAC.
Guna mendekatkan diri dengan warga Palembang, SSAC rutin menggelar gathering mingguan setiap akhir pekan di ruang publik Kambang Iwak. Di sana, pengunjung bisa berinteraksi, belajar menangani satwa, hingga berfoto bersama berbagai jenis ular secara gratis tanpa dipungut biaya.
Meski begitu, Jek tak menampik bahwa mengelola komunitas satwa tidak populer punya tantangan tersendiri, terutama pada aspek rekrutmen. Rasa takut yang mengakar pada masyarakat membuat calon anggota baru relatif terbatas.
Guna menembus benteng fobia tersebut, SSAC mengoptimalkan platform media sosial sebagai panggung promosi sekaligus ruang literasi digital."Diharapkan untuk generasi muda yang mencintai hewan yang dianggap hama untuk bergabung bersama SSAC. Banyak manfaat yang akan dirasakan, selain edukasi juga menjadi wadah untuk bersilaturahmi. Jangan takut untuk berbuat hal kebaikan sekalipun melalui media hewan," tutup Jek.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....