Bulan Safar Ajarkan Konsistensi dalam Beramal
- 24 Jul 2026 07:46 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Penyuluh Agama Islam Kankemenag Kota Palembang, Ustaz M. Nor, menegaskan bahwa Islam tidak mengenal bulan sial, termasuk bulan Safar, sehingga umat Islam tidak perlu mempercayai mitos tentang kesialan pada bulan tersebut.
- Umat Islam dianjurkan tetap istiqamah dalam beribadah selama bulan Safar dengan memperbanyak salat, membaca Al-Qur’an, berzikir, bersedekah, dan menjalankan amalan sunah.
- Masyarakat diimbau menjaga akidah dengan tidak mempercayai mitos yang tidak memiliki dasar syariat serta tetap menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa rasa takut terhadap anggapan bulan sial.
RRI.CO.ID, Palembang - Memasuki bulan Safar, umat Islam diingatkan untuk tetap menjaga konsistensi dalam beribadah dan tidak mudah mempercayai anggapan bahwa Safar merupakan bulan pembawa kesialan.
Penyuluh Agama Islam Kankemenag Kota Palembang, Ustaz M. Nor, mengatakan bahwa Islam tidak mengenal istilah bulan sial. Menurutnya, keyakinan yang mengaitkan Safar dengan kesialan atau turunnya bala berasal dari tradisi masyarakat pada masa jahiliah.
“Tidak ada bulan sial dalam Islam, termasuk bulan Safar. Yang harus dijaga adalah ketakwaan dan konsistensi dalam beramal,” kata Ustaz M. Nor dalam Program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Palembang, Rabu, 23 Juli 2026.
Ia menjelaskan, bulan Safar memiliki kedudukan yang sama dengan bulan-bulan lainnya dalam kalender Hijriah. Karena itu, umat Islam tetap dianjurkan memperbanyak ibadah seperti salat, membaca Al-Qur’an, berzikir, bersedekah, dan menjalankan amalan sunah secara istiqamah.
Menurutnya, banyak masyarakat yang masih mengaitkan akhir bulan Safar dengan datangnya musibah atau larangan melakukan aktivitas tertentu. Padahal, dalam ajaran Islam segala sesuatu terjadi atas kehendak dan takdir Allah SWT.
Ustaz M. Nor menegaskan bahwa menjaga akidah lebih penting daripada mengikuti mitos yang tidak memiliki dasar syariat. Ia mengajak masyarakat untuk tetap menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk bekerja, berusaha, dan melangsungkan pernikahan, tanpa rasa takut terhadap anggapan bulan sial.
Ia berharap bulan Safar dapat dijadikan waktu untuk memperbaiki diri dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT melalui amal ibadah yang dilakukan secara terus-menerus dan penuh keikhlasan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....