Generasi Muda 'Kecanduan' AI, Minat Literasi Kritis Kian Terancam
- 20 Jul 2026 13:50 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Lailatur Rohma, pemenang Miss Hijab Sosial Sumatera Selatan 2026, mengidentifikasi ketergantungan generasi muda pada AI sebagai tantangan utama dalam upaya literasi digital.
- Siswa yang ditemuinya cenderung menerima informasi langsung dari AI tanpa melakukan verifikasi atau penyaringan terhadap keakuratan data yang diperoleh.
- Program advokasi Ruang Gelora dirancang untuk mengedukasi masyarakat tentang penggunaan AI yang bijak dan pentingnya literasi digital di era teknologi.
RRI.CO.ID, Palembang - Ketergantungan generasi muda terhadap kecerdasan buatan/Artificial Intelligence (AI) menjadi tantangan tersendiri dalam mengedukasi literasi. Hal ini diungkapkan Miss Hijab Sosial Sumatera Selatan 2026, Lailatur Rohma, saat menjalankan program advokasinya, Ruang Gelora.
Hal tersebut ia sampaikan dalam siaran Obrolan Komunitas Pro 4 RRI Palembang pada Senin, 13 Juli 2026. Laila mengaku banyak siswa yang pernah ditemuinya, cenderung menerima informasi dari kecerdasan buatan tanpa menyaring kembali kebenarannya.
"Anak-anak zaman sekarang ini kan terlalu ke AI-an," ujar Laila. Ia menyebut sebagian siswa bahkan enggan mencari referensi lain karena merasa cukup mengandalkan jawaban dari mesin pencari maupun AI.
Laila menyebut sebagian siswa juga masih menyepelekan pentingnya literasi dalam kehidupan sehari-hari. Sikap tersebut dinilai menjadi tantangan tersendiri bagi para relawan Ruang Gelora saat memberikan edukasi di sekolah.
"Mereka kayak ngerasa ‘udahlah mudah cari aja di Google, cari aja di AI’," ungkap Laila. Padahal ia menegaskan informasi yang diperoleh dari kecerdasan buatan tidak bisa langsung diterima tanpa proses verifikasi lebih lanjut.
Untuk menangani kasus seperti ini, pendekatan personal menjadi strategi utama yang dilakukannya dalam menghadapi siswa dengan tingkat resistensi tinggi terhadap edukasi literasi. Metode tersebut dinilai lebih efektif dibanding teguran langsung di hadapan umum.
"Kita pendekatan dulu, kita ajak bicara dari hati ke hati, terus kasih penjelasan dan dampaknya," ujarnya. Ia menegaskan pendekatan yang diterapkan tidak hanya berfokus pada literasi, tetapi juga menyentuh aspek etika berkomunikasi siswa.
Pendekatan personal melalui obrolan santai dinilai mampu membangun kepercayaan antara relawan dan siswa. Laila juga menyebut sejumlah siswa bahkan mulai tertarik menulis karya sastra usai mengikuti program edukasi tersebut.
Laila berharap pendekatan personal yang diterapkan dapat terus membantu generasi muda menyaring informasi secara lebih kritis. Ia menegaskan literasi digital juga menjadi kebutuhan mendesak di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan saat ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....