Pilihan Terlalu Banyak Bisa Picu Stres dan Penyesalan

  • 29 Mei 2026 19:25 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Barry Schwartz menyebut terlalu banyak pilihan dapat memicu stres dan kebingungan.
  • Fenomena ini dikenal sebagai The Paradox of Choice atau paradoks pilihan.
  • Banyaknya opsi membuat seseorang menunda bahkan menghindari pengambilan keputusan.
  • Pilihan berlimpah juga memunculkan rasa penyesalan setelah menentukan keputusan.

RRI.CO.ID, Palembang. Terlalu banyak pilihan ternyata tidak selalu membuat hidup lebih baik. Psikolog Barry Schwartz menilai banjir opsi justru dapat memicu stres dan kesulitan mengambil keputusan.

Pandangan itu disampaikan Schwartz dalam presentasi TED berjudul The Paradox of Choice. Video yang diunggah kanal TED pada 16 Januari 2007 tersebut kembali ramai dibahas di media sosial dan forum pengembangan diri.

Schwartz mengkritik pandangan masyarakat modern yang menganggap semakin banyak pilihan akan meningkatkan kebebasan dan kesejahteraan. Menurutnya, kondisi itu justru dapat membuat seseorang kewalahan menghadapi berbagai opsi dalam kehidupan sehari-hari.

“Pilihan yang terlalu banyak dapat menciptakan kelumpuhan dalam mengambil keputusan,” ujar Barry Schwartz dalam presentasi TED tersebut. Ia menjelaskan, seseorang sering menunda memilih karena takut membuat keputusan yang salah.

Fenomena itu dapat ditemukan dalam berbagai situasi, mulai dari memilih produk di supermarket hingga menentukan karier dan pasangan hidup. Banyak orang akhirnya merasa cemas karena terus membandingkan berbagai kemungkinan yang tersedia.

Schwartz juga menyoroti turunnya tingkat kepuasan setelah seseorang mengambil keputusan. Menurutnya, banyaknya alternatif membuat individu terus memikirkan pilihan lain yang tidak diambil.

Akibatnya, seseorang lebih mudah menyesali keputusan yang sebenarnya sudah baik. Rasa kecewa kemudian muncul karena ekspektasi terhadap hasil menjadi terlalu tinggi.

Pandangan Schwartz diperkuat oleh penelitian Profesor Psikologi Columbia University, Sheena Iyengar, melalui eksperimen terkenal “The Jam Study”. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pilihan yang lebih sedikit justru mendorong orang lebih mudah mengambil keputusan pembelian.

Dalam eksperimen itu, Iyengar memajang 24 jenis selai di supermarket. Hasilnya, sekitar 60 persen pengunjung tertarik melihat, tetapi hanya 3 persen yang membeli produk tersebut.

Pada percobaan lain, jumlah pilihan dikurangi menjadi enam jenis selai. Meski jumlah pengunjung yang berhenti melihat lebih sedikit, tingkat pembelian meningkat tajam hingga sekitar 30 persen.

Eksperimen itu dipublikasikan dalam berbagai referensi psikologi perilaku, termasuk artikel PsychoTricks - The Jam Experiment dan ModelThinkers - Paradox of Choice. Studi tersebut dinilai membuktikan bahwa penyederhanaan pilihan dapat mengurangi beban kognitif konsumen.

Psikolog menilai kondisi itu relevan dengan kehidupan masyarakat digital saat ini. Paparan pilihan tanpa batas melalui media sosial, platform belanja daring, hingga layanan hiburan membuat individu lebih mudah mengalami kelelahan mental.

Karena itu, Schwartz menyarankan masyarakat membatasi pilihan dalam situasi tertentu. Langkah sederhana seperti menentukan prioritas dan mengurangi alternatif dinilai dapat membantu seseorang mengambil keputusan lebih tenang dan puas terhadap hasilnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....