Hifzul Lisan Jadi Benteng Cegah Fitnah
- 14 Mei 2026 09:58 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Umat Islam diingatkan bijak menjaga ucapan dan memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya
- Hifzul lisan dinilai penting untuk mencegah fitnah dan konflik sosial di masyarakat
- Masyarakat diajak menggunakan lisan untuk menyebarkan kebaikan dan menjaga persaudaraan
RRI.CO.ID, Palembang - Arus informasi yang cepat membuat masyarakat semakin rentan terjebak fitnah dan penyebaran kabar tanpa verifikasi. Karena itu, umat Islam diingatkan lebih bijak menjaga ucapan dan menyaring informasi sebelum disampaikan kepada orang lain.
Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam Kankemenag Kota Palembang, Dianata Anugrah, saat menjadi narasumber program Mutiara Pagi melalui sambungan telepon di Studio Pro 1 RRI Palembang, Minggu, 10 Mei 2026.
Menurut Dianata, menjaga lisan atau hifzul lisan merupakan amanah penting dalam ajaran Islam. Sikap tersebut diperlukan agar ucapan tidak melukai orang lain maupun memicu perpecahan di tengah masyarakat.
Ia menjelaskan Islam mengajarkan umatnya berkata baik atau memilih diam ketika tidak memiliki sesuatu yang bermanfaat untuk disampaikan. Ucapan yang tidak terkontrol dinilai dapat menimbulkan konflik sosial dan permusuhan berkepanjangan.
Dianata juga mengingatkan pentingnya memeriksa kebenaran informasi sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al Hujurat ayat 6. Menurutnya, seseorang tidak boleh langsung mempercayai kabar tanpa melakukan klarifikasi terlebih dahulu.
“Bahaya fitnah lebih kejam daripada pembunuhan seperti tercantum dalam Surah Al Baqarah ayat 191,” ujarnya. Ia mengatakan fitnah dapat merusak hubungan sosial dan meninggalkan penyesalan di kemudian hari.
Dalam kehidupan sehari-hari, lisan seharusnya digunakan untuk menciptakan perdamaian dan menghadirkan kemaslahatan bagi lingkungan sekitar. Karena itu, umat Islam diminta menghindari perkataan sia-sia yang tidak memberi manfaat.
Dianata menuturkan salah satu cara menjaga lisan ialah membiasakan diri berpikir sebelum berbicara. Seseorang perlu mempertimbangkan dampak ucapan agar tidak menimbulkan keburukan bagi orang lain.
“Pertimbangkan apakah ucapan tersebut membawa manfaat atau justru menyakiti orang lain,” tuturnya. Ia menilai kebiasaan tersebut penting untuk membangun komunikasi yang sehat dalam kehidupan sosial.
Selain itu, masyarakat juga diajak memperbanyak zikir dan memohon ampunan kepada Allah SWT agar hati lebih tenang. Menurut Dianata, hati yang tenang akan lebih mudah menjaga ucapan dan menjauhi perkataan buruk.
Ia berharap masyarakat dapat menggunakan lisan untuk menyebarkan nilai kebaikan dan mempererat persaudaraan. Menurutnya, menjaga ucapan bukan sekadar etika berbicara, tetapi bagian penting dalam menjaga keharmonisan sosial.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....