Mengenal Sosok RA Kartini Wanita Pejuang Emansipasi
- 21 Apr 2026 08:55 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang - Raden Adjeng Kartini dilahirkan di Jepara 21 April 1879. Kartini Merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat seorang patih yang diangkat manjadi bupati Jepara setelah Kartini Lahir.
Dikutip dari Laman Universitas Pakuan ayah dari RA Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Setelah perkawinan itu ayah Kartini diangkat menjadi Bupati di Jepara menggantikan posisi ayah kandungnya R.A. Woerjan.
RA Kartini anak ke 5 dari 11 bersudara kandung dan tiri, menjadi anak perempuan tertua. Sampai usia 12 tahun Kartini diperbolehkan sekolah di ELS ( Europese Logere School ).
Ketika sekolah di ELS Kartini belajar bahasa Belanda, tetapi setelah usia 12 tahun ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit. Dalam kondisi inilah Kartini mulai belajar sendiri di rumah dan menulis surat kepada teman temannya.
Teman Kartini merupakan korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya.
Melalui Buku, koran dan majalah Eropa Kartini sangat tertarik pada kemajuan berfikir perempuan Eropa kala itu. Timbullah keinginan Kartini untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.
RA Kartini akhirnya menulis dan mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Melalui surat surat inilah Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian sambil membuat catatan penting dalam hidupnya.
Perhatiannya tidak hanya soal emansipasi wanita tapi juga masalah sosial umum di masyarakat saat itu. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas.
Diantara buku yang dibaca Kartini sebelum usia 20 tahun buku berjudul Max Havelaar dan Surat Surat Cinta karya Multatuli, De Stille Kroacht karya Louis Coperus. Semua buku yang dibaca berbahasa Belanda dan semua buku tersebut karya yang bermutu tinggi termasuk roman anti perang karangan Berta Von Suttner.
Kartini menikah dengan Bupato Rembang K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat pada 12 November 1903. Suaminya mengerti dengan keinginan Kartini dengan mendirikan sekolah wanita di komplek kantor Kabupaten Rembang yang saat ini bernama Gedung Pramuka.
Berkat kegigihan Kartini didiirikanlah Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912 kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut Sekolah Kartini dan Yayasan Kartini didirikan oleh keluarga Van Deventer seorang tokoh Politik Etis.
Setelah wafat Mr. J.H Abendanon membukukan surat surat Kartini yang pernah dikirimkan ke Eropa. Kumpulan buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang artinya Dari Kegelapan Menuju Cahaya.
Kemudian tahun 1922 Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitla Terang Boeah Pikiran terjemah dari empat bersaudara. Selanjutnya 1938 keluarla Habis Gelap Terbitla Terang versi Armijn Pane sastrawan Pujangga Baru yang dicetak sebanyak sebelas kali.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....