Hubungan Taqwa dan Komitmen Dalam Pandangan Islam

  • 14 Agt 2025 13:41 WIB
  •  Palembang

KBRN, Palembang: Takwa merupakan salah satu konsep inti dalam ajaran Islam yang menjadi tolak ukur kemuliaan manusia di hadapan Allah. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu" (QS. Al-Hujurat [49]: 13).

Menurut Ustadzah Nurhayati Damiri, pada saat Dialog Mutiara Pagi di PRO 1 RRI Palembang, Senin (11/8/2025), ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan seorang hamba tidak ditentukan oleh keturunan, kekayaan, atau status sosial, melainkan oleh kualitas ketakwaannya. Namun, untuk mencapai derajat takwa yang hakiki, dibutuhkan komitmen yang konsisten, baik dalam keyakinan, ucapan, maupun perbuatan.

Secara bahasa, kata taqwa berasal dari akar kata waqā yang berarti “menjaga” atau “melindungi.” Menurut Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, takwa adalah menjaga diri dari segala sesuatu yang dapat mendatangkan murka Allah, baik berupa dosa besar maupun kecil, dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Hal ini selaras dengan penjelasan Umar bin Khattab RA ketika ditanya tentang takwa: "ia mengibaratkannya seperti berjalan di jalan yang penuh duri, dimana seseorang harus berhati-hati agar tidak terkena duri tersebut".

Ketakwaan bukanlah sikap sesaat, melainkan proses panjang yang membutuhkan komitmen terus-menerus. Allah SWT memerintahkan orang beriman untuk bertakwa dengan sungguh-sungguh: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim." (QS. Ali 'Imran [3]: 102).

Ayat ini menunjukkan bahwa takwa memerlukan kesungguhan (jiddiyyah) dan keberlanjutan (istiqamah). Komitmen tersebut tercermin dalam tiga aspek:

  1. Konsistensi Iman : Menjaga keyakinan agar tidak tercampur syirik atau keraguan.

  2. Konsistensi Ibadah : Melaksanakan ibadah wajib dan memperbanyak ibadah sunnah secara teratur.

  3. Konsistensi Akhlak : Berbuat baik kepada sesama, menepati janji, dan menjauhi sifat zalim.

Menurut Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami’ al-‘Ulum wal-Hikam, seseorang yang bertakwa harus terus memperbarui niat dan amalnya, karena iman dapat naik-turun dan hati manusia mudah terpengaruh oleh hawa nafsu serta bisikan setan.

Takwa adalah puncak kualitas seorang Muslim, tetapi mencapainya memerlukan komitmen yang konsisten. Komitmen tersebut diwujudkan dalam menjaga iman, ibadah, dan akhlak sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah. Tanpa komitmen, takwa akan menjadi hanya slogan tanpa makna. Sebaliknya, dengan komitmen yang kuat, seorang muslim akan mampu menjadikan takwa sebagai pedoman hidup yang membawanya pada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....