Permainan Tradisional Jadi Media Belajar Budaya di SDN 189 Palembang
- 07 Okt 2026 10:44 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Permainan tradisional dimanfaatkan sebagai media pembelajaran untuk membangun interaksi, kerja sama, dan kepedulian anak di Palembang.
- Berbeda dengan penggunaan gawai individual, permainan tradisional memungkinkan anak bergerak, berkomunikasi, dan membangun kolaborasi dalam satu lingkungan.
- Sekolah-sekolah di Kota Palembang melatih peserta didik untuk mengikuti perlombaan permainan tradisional dalam berbagai kegiatan kebudayaan lokal.
RRI.CO.ID, Palembang - Permainan tradisional kembali dimanfaatkan sebagai ruang belajar anak untuk membangun interaksi, kerja sama, dan kepedulian. Kegiatan tersebut menjadi alternatif aktivitas di tengah penggunaan gawai yang semakin dekat dengan kehidupan generasi muda.
Berbeda dengan penggunaan gawai secara individual, permainan tradisional mendorong anak bergerak dan berkomunikasi secara langsung. Anak juga belajar membangun kerja sama bersama teman dalam satu lingkungan.
Kepala SD Negeri 189 Palembang, Rita Purnama Sari, mengatakan cak ingkling dan cuki dapat mengenalkan nilai kebersamaan kepada peserta didik. Sekolah juga melatih peserta didik mengikuti perlombaan permainan tradisional dalam berbagai kegiatan kebudayaan di Kota Palembang.
“Permainan tradisional membuat anak berinteraksi langsung dengan teman-temannya sekaligus melatih ketangkasan dan kemampuan mengikuti aturan,” ujarnya dalam Obrolan Komunitas RRI, Kamis, 1 Oktober 2026.
Selain cak ingkling, peserta didik juga diperkenalkan dengan permainan cuki yang menggunakan papan sederhana dan kancing. Rita mengatakan pihak sekolah membuat perlengkapan tersebut agar anak mengenal permainan tradisional secara dekat dan menyenangkan.
“Kegiatan itu juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda,” katanya. Pembelajaran budaya juga dilakukan melalui muatan lokal bahasa daerah yang diajarkan kepada peserta didik.
SD Negeri 189 Palembang menerapkan penggunaan bahasa Palembang dalam salah satu bagian upacara sekolah, berdampingan dengan bahasa Indonesia. Rita menilai kebiasaan tersebut dapat membuat anak mengenal bahasa dan budaya daerah sejak usia dini.
“Pengenalan budaya perlu dilakukan secara bertahap sesuai usia dan kemampuan peserta didik,” tuturnya. Siswa kelas satu hingga tiga mendapat pembelajaran sederhana, sedangkan kelas empat sampai enam memperoleh materi budaya daerah yang lebih luas.
Rita berharap permainan tradisional dan bahasa daerah tidak hanya menjadi kegiatan perlombaan di sekolah. Menurutnya, kedua unsur tersebut perlu terus hidup dalam keseharian anak.
“Mengenalkan budaya sejak sekolah dasar dapat membantu anak memahami kebersamaan, saling menghargai, dan menjaga warisan budaya,” ujarnya. Nilai tersebut dapat menjadi bagian dari kehidupan anak dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.
Pengamalan nilai Pancasila dapat tumbuh melalui pengalaman langsung dalam aktivitas sehari-hari. Permainan tradisional menjadi salah satu media bagi anak untuk belajar kebersamaan tanpa hanya mengandalkan hafalan di dalam kelas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....