Muba Susun FSVA 2026, Jurus Jitu Tangkal Kerawanan Pangan Daerah

  • 09 Apr 2026 09:37 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Muba - Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) bergerak cepat menyusun peta jalan ketahanan pangan guna menjamin setiap warga mendapatkan akses pangan bergizi secara merata. Langkah ini menjadi instrumen vital untuk mendeteksi wilayah rentan kelaparan agar intervensi pemerintah tidak meleset dari target sasaran.

Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan Muba, Apriadi Aziz, meluncurkan penyusunan Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) untuk tahun anggaran 2026 pada Rabu, 8 April 2026. Dokumen strategis ini memotret kondisi ketersediaan pangan secara detail hingga ke tingkat desa di seluruh penjuru Bumi Serasan Sekate.

Pemkab Muba menggunakan data FSVA 2025 sebagai rapor evaluasi untuk memperbaiki distribusi logistik di daerah-daerah yang masih memiliki rapor merah. Tim ahli menganalisis secara mendalam faktor penyebab kerentanan pangan mulai dari hambatan distribusi hingga rendahnya daya beli masyarakat.

Apriadi menegaskan, pemerintah daerah kini tidak lagi mengambil kebijakan berdasarkan perkiraan atau asumsi semata. "Ke depan kita tidak bisa lagi bekerja berdasarkan asumsi, melainkan semua harus berbasis data yang akurat," kata Apriadi di hadapan para pemangku kepentingan.

Penyusunan peta pangan 2026 ini bertujuan mempertajam analisis integrasi lintas sektor agar ketersediaan komoditas tetap stabil sepanjang tahun. Pemerintah fokus memastikan masyarakat mampu mengakses pangan yang aman dan bermutu tinggi untuk meningkatkan kualitas hidup warga Muba.

Hasil pemetaan tahun lalu menunjukkan adanya variasi tingkat kerentanan pangan yang cukup signifikan antar wilayah kecamatan. Perbedaan karakteristik wilayah ini menuntut pemerintah daerah melakukan penanganan yang lebih spesifik dan tidak bisa disamaratakan antar daerah.

"FSVA menjadi fondasi utama agar intervensi pemerintah tepat lokasi, tepat sasaran, dan tepat manfaat bagi warga," ujar Apriadi. Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan Muba, Apriadi Aziz, ingin setiap rupiah dari dana daerah benar-benar berdampak langsung terhadap pemenuhan gizi masyarakat di wilayah pelosok.

Upaya ini juga menjadi bagian dari strategi besar Bupati Muba dalam menekan angka kemiskinan ekstrem melalui penguatan sektor konsumsi. Pemenuhan pangan yang cukup akan menciptakan sumber daya manusia yang lebih produktif dan unggul di masa depan.

Dinas Ketahanan Pangan Muba mendorong kolaborasi nyata antara perangkat daerah untuk membangun sistem pangan yang tangguh menghadapi perubahan iklim. Pendekatan berbasis data ini membuktikan bahwa isu pangan merupakan jantung dari agenda pembangunan berkelanjutan daerah.

Sistem pangan yang adaptif akan memudahkan pemerintah merespons lonjakan harga atau kelangkaan barang di pasar secara cepat. Pemkab Muba menjamin bahwa tidak ada satu pun wilayah yang akan terabaikan dalam distribusi bantuan pangan maupun edukasi gizi.

Masyarakat di wilayah rentan pangan akan mendapatkan prioritas utama dalam program intervensi sosial dan penguatan ekonomi keluarga. Langkah ini mencerminkan kehadiran nyata negara dalam melindungi hak dasar warga negara untuk mendapatkan makanan yang layak.

Melalui sinergi seluruh pihak, Muba optimis mampu menciptakan ketahanan pangan mandiri yang lepas dari ketergantungan pasokan luar daerah. Visi besar ini diharapkan mampu membawa Muba menjadi daerah percontohan dalam pengelolaan kedaulatan pangan berbasis data digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....