Polsek Pemulutan Dukung Ketahanan Pangan Lewat Panen Jagung
- 27 Nov 2025 17:52 WIB
- Palembang
KBRN, Ogan Ilir: Di Desa Aurstanding, Kecamatan Pemulutan, aktivitas panen jagung pada Selasa (26/11/2025) berlangsung berbeda dari biasanya. Bukan hanya petani dan warga desa yang turun tangan, tetapi juga aparat Polsek Pemulutan. Di bawah terik matahari, polisi dan petani memikul hasil panen dengan tangan yang sama-sama berdebu, menunjukkan bahwa dukungan terhadap ketahanan pangan tidak hanya berhenti pada kebijakan, tetapi menjadi aksi nyata.
Panen jagung yang berlangsung di area seluas 0,5 hektare ini merupakan hasil kerja bersama antara pihak kepolisian, pemilik lahan, dan Kelompok Tani Aurstanding. Hasil panen mencapai sekitar satu ton jagung bongkol—jumlah yang cukup menjanjikan untuk penambahan stok pangan di tingkat desa.
Kapolsek Pemulutan, Iptu Nugrah Angga Oktari, mengatakan bahwa pelibatan kepolisian dalam kegiatan pertanian merupakan pendekatan yang sengaja dilakukan agar polisi hadir bukan sekadar sebagai penegak hukum, tetapi juga bagian dari penguatan kesejahteraan masyarakat.
“Program Asta Cita memberikan kesempatan bagi kita untuk terlibat langsung dalam menjaga ketahanan pangan di tingkat desa. Polsek Pemulutan akan terus bersinergi dengan pemerintah desa dan kelompok tani demi terciptanya kemandirian pangan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan semacam ini tidak hanya meningkatkan stok pangan, tetapi sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap Polri. “Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar desa memiliki ketahanan pangan yang kuat. Kehadiran Polri pada kegiatan panen juga menjadi dorongan moral bagi para petani,” katanya.
Untuk mencapai lokasi panen, rombongan harus menempuh perjalanan lewat jalur air menggunakan perahu ketek—sebuah detail yang mencerminkan geografis Pemulutan yang khas. Di titik panen, suara tawa petani dan aparat bersahutan, menjadikan kegiatan ini lebih terasa seperti gotong royong desa daripada tugas formal.
Selain jajaran Polsek, hadir pula Kepala Desa Aurstanding dan anggota kelompok tani. Interaksi yang terjalin terasa cair—petani berkelakar, polisi menjawab ramah, sambil tangan tetap sibuk memetik bongkol.
Bagi warga Aurstanding, kegiatan ini bukan hanya soal panen, tetapi simbol harapan: bahwa jagung dari ladang mereka bisa menjadi pijakan menuju kemandirian pangan, dan polisi bukan sosok datang hanya saat ada masalah, tetapi juga ketika desa sedang berusaha tumbuh.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....