BHS Soroti Antrean di Ketapang, Usul Tambah Dermaga
- 19 Mar 2026 09:46 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Banyuwangi - Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, menyoroti pentingnya lintasan penyeberangan antara Pelabuhan Ketapang dan Pelabuhan Gilimanuk sebagai jalur strategis nasional.
Lintasan ini dinilai krusial karena menjadi salah satu jalur tersibuk, terutama saat arus mudik dan libur Lebaran. Namun, keterbatasan jumlah dermaga dinilai menjadi penyebab utama antrean panjang yang kerap terjadi.
“Antrean panjang tidak bisa dianggap sepele. Ini berpotensi berdampak pada perekonomian,” ujar Bambang Haryo Soekartono saat meninjau langsung di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Senin, 17 Maret 2026.
Ia menekankan, sektor logistik harus menjadi perhatian serius, mengingat jalur tersebut juga menjadi pintu utama menuju Bali sebagai destinasi wisata kelas dunia.
Menurutnya, pertumbuhan pariwisata selalu berjalan seiring dengan peningkatan kebutuhan logistik. Namun, saat ini jumlah perjalanan kapal belum bertambah karena keterbatasan dermaga.
Untuk itu, ia mendorong pemerintah segera menambah minimal dua unit dermaga baru. Langkah ini dinilai dapat mengoptimalkan lebih dari 20 kapal yang saat ini belum beroperasi, sekaligus meningkatkan kapasitas angkut hingga sekitar 30 persen.
“Dengan tambahan dermaga, kapal yang sebelumnya tidak beroperasi bisa masuk jadwal dan memperkuat kapasitas angkut,” jelasnya.
Bambang Haryo juga mengingatkan, hambatan distribusi logistik dapat memicu kenaikan harga barang. Bahkan, kemacetan yang mencapai lebih dari 10 jam berpotensi mendorong inflasi dan menghambat pertumbuhan ekonomi.
Ia menegaskan, distribusi logistik harus tetap lancar, terutama di kawasan pariwisata, agar tidak terjadi kelangkaan barang bagi wisatawan maupun masyarakat.
“Wilayah pariwisata harus dipastikan tercukupi logistiknya, terutama makanan dan minuman selama mudik dan libur Lebaran,” tegasnya.
Selain itu, untuk jangka pendek, ia mendorong penerapan pola operasional kapal nonjadwal dengan percepatan proses bongkar muat serta penetapan standar waktu layanan.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan selama periode libur panjang.
Lebih lanjut, ia mencontohkan praktik di berbagai negara seperti China, Jepang, Amerika Serikat, hingga kawasan Eropa dan Malaysia yang tetap menjaga distribusi logistik berjalan selama masa libur.
Di negara-negara tersebut, aktivitas logistik bahkan cenderung meningkat guna menjaga rantai pasok dan stabilitas harga.
Menurutnya, praktik global ini menunjukkan bahwa kelancaran distribusi logistik menjadi kunci dalam menjaga kestabilan ekonomi, terutama saat terjadi lonjakan permintaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....