Tren Fesyen 'Thrift': Cara Anak Muda Tampil Unik

  • 31 Mei 2026 06:42 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya – Tren berburu pakaian bekas berkualitas (thrift shopping) hingga kini masih menjadi pilihan utama bagi generasi muda dalam mengeksplorasi gaya berbusana harian. Selain dinilai jauh lebih hemat bagi kantong, pakaian thrift juga digemari karena memiliki karakter desain unik dan langka yang sulit disamai oleh produk massal pabrikan modern.

Eksistensi gerai pakaian bekas ini pun kian menjamur dan semakin mudah diakses masyarakat, baik melalui lapak fisik tradisional maupun etalase digital di media sosial. Kemudahan akses tersebut membuat para pencinta mode dapat dengan praktis berburu berbagai model pakaian yang adaptif untuk menunjang penampilan mereka.

Salah satu magnet terbesar dari budaya thrifting ini adalah kesempatan emas untuk mendapatkan pakaian dari merek mode papan atas dengan harga miring. Bagi sebagian besar anak muda, fenomena ini menjadi solusi cerdas untuk tetap tampil modis tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam di toko ritel modern.

Di luar urusan efisiensi anggaran dan estetika, meluasnya tren ini juga dinilai selaras dengan kampanye gaya hidup hijau yang ramah lingkungan. Aktivitas memperpanjang masa pakai pakaian secara langsung berkontribusi menekan laju pertumbuhan limbah tekstil (fashion waste) yang kian menumpuk di bumi.

Tidak sedikit pembeli yang sengaja meluangkan waktu demi berburu pakaian dengan potongan desain kuno (vintage) atau edisi lawas yang telah berhenti diproduksi. Keunikan visual dari era masa lalu inilah yang dicari untuk menciptakan identitas berbusana yang beda dan eksklusif di ruang publik.

Saat akhir pekan tiba, sejumlah pusat pertokoan pakaian bekas biasanya akan mengalami lonjakan kunjungan dari masyarakat yang ingin berburu koleksi terbaru. Kendati menawarkan banyak keuntungan, para pembeli tetap diimbau untuk selalu jeli memeriksa kelayakan kondisi fisik serta wajib mencuci bersih pakaian sebelum digunakan demi faktor higienitas kesehatan kulit.

Perspektif Riset & Dampak Lingkungan

Kuatnya arus pergeseran pasar menuju konsumsi pakaian bekas ini sejalan dengan laporan pasar global dari ThredUp Apparel Market Report yang dirilis pada tahun 2022. Riset tersebut memproyeksikan bahwa pasar pakaian bekas global akan tumbuh sebesar 127 persen pada tahun 2026, yang membuktikan bahwa utilitas thrifting telah berevolusi menjadi pilar ekonomi sirkular yang diakui secara internasional.

Sementara itu, dari sudut pandang ekologi lingkungan, studi dari Global Fashion Agenda pada tahun 2020 mengenai keberlanjutan industri mode menegaskan bahwa membeli satu pakaian bekas mampu menghemat sekitar 3.000 liter air yang biasanya habis dalam siklus produksi satu kaos baru. Langkah memutar kembali fungsi pakaian layak pakai terbukti menjadi instrumen taktis bagi masyarakat urban untuk mereduksi jejak karbon individual secara nyata di ruang siber dan nyata.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....