Hidup Lebih Bermakna dengan Zikir
- 16 Mar 2026 07:06 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Mengingat Allah atau berzikir menjadi salah satu cara agar kehidupan manusia terasa lebih bermakna dan tidak hampa. Hal tersebut disampaikan H.M. Ansori, S.Sos.I., M.Pd saat Mutiara Pagi Pro1 RRI Palangka Raya, Senin 16 Maret 2026.
Dalam ceramahnya, H.M. Ansori mengajak umat Islam untuk senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik saat senang maupun ketika menghadapi kesulitan hidup. “Dalam setiap situasi dan kondisi apa pun yang terjadi kita harus ingat kepada Allah, supaya kita memahami jati diri kita sebagai manusia,” ujarnya.
Ia menjelaskan, secara lahiriah tanda seseorang hidup dapat dilihat dari detak jantung, aliran darah, serta napas yang keluar masuk. Namun menurutnya, kehidupan sejati tidak hanya diukur dari kondisi fisik semata.
Menurut Ansori, banyak orang yang secara fisik tampak hidup tetapi merasakan kekosongan dalam batin. Perasaan tersebut bisa muncul setelah seseorang lelah bekerja, selesai berlibur, atau bahkan setelah menikmati berbagai kenikmatan dunia.
“Sering kali setelah kita lelah bekerja seharian atau bahkan setelah puas berlibur, masih ada rasa gelisah. Itulah tanda bahwa jasad kita mungkin hidup, tetapi hati kita bisa saja sedang kosong,” ucapnya.
Ia menekankan bahwa hati manusia akan benar-benar hidup apabila selalu diisi dengan zikir kepada Allah. Zikir menjadi sarana untuk menenangkan jiwa sekaligus menghidupkan hati.
Ansori juga mengutip sabda Nabi Muhammad SAW yang menggambarkan perbedaan antara orang yang berzikir dengan yang tidak berzikir.“Rasulullah menggambarkan perumpamaan orang yang menyebut atau berzikir kepada Tuhannya dengan orang yang tidak menyebut Tuhannya seperti orang yang hidup dengan orang yang mati,” katanya.
Menurutnya, orang yang senantiasa berzikir akan memiliki hati yang terang, jiwa yang lapang, serta langkah hidup yang lebih terarah meskipun menghadapi berbagai kesulitan. Sebaliknya, orang yang lalai dari zikir diibaratkan seperti orang yang mati, meskipun secara lahiriah memiliki kekayaan, popularitas, atau banyak pengikut.
“Kematian sejati bukan ketika ruh berpisah dari jasad, tetapi ketika hati ini berpisah dari penciptanya. Di situlah seseorang mungkin masih hidup di dunia, tetapi jiwanya telah mati,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....