Kisah Relawan Perempuan di Palangkaraya: Menembus Asap demi Padamkan Karhutla

  • 29 Sep 2026 19:39 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangkaraya - Aksi tangguh ditunjukkan oleh kelompok relawan pemadam perempuan dari Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kahayan Tengah saat memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Roudotul Jannah (23) bersama dua rekannya, Hani (23) dan Gisya (22), tanpa ragu menerobos kepulan asap demi menaklukkan kobaran api.

Berbekal mesin pompa, selang, dan embung portabel, mereka bahu-membahu menyisir titik-titik api yang berpotensi meluas. Amukan api yang melahap lahan gambut serta hembusan angin kencang menjadi tantangan yang harus dihadapi para srikandi tersebut di lapangan.

"Selama kabut asap, anak saya di rumah batuk-batuk. Makanya saya tergerak untuk ikut memadamkan api agar kabut asap cepat hilang dan langit kembali cerah," kata Roudotul Jannah, Selasa, 29 September 2026.

Roudotul mengungkapkan bahwa dirinya telah menjadi relawan pemadam karhutla sejak Januari 2026. Menurutnya, keterlibatan kelompok perempuan dalam penanganan karhutla membuktikan pentingnya kesetaraan gender dalam upaya penanganan karhutla.

Hal senada disampaikan oleh Gisya. Ia memutuskan menjadi relawan karhutla sejak Maret 2026 setelah merasa iba melihat rekan-rekannya kelelahan usai berjibaku menaklukkan si jago merah.

Tergerak untuk meringankan beban mereka, lulusan S-1 Teknik Informatika Uniska Banjarmasin ini memantapkan diri untuk terjun langsung ke lapangan. Pada awalnya, ia bertugas di barisan belakang untuk membantu suplai air, namun seiring berjalannya waktu, ia mulai dipercaya berada di garis terdepan.

Baginya, menembus medan sulit di tengah hutan gambut yang membara bukanlah hal mudah dan membutuhkan kewaspadaan. Lewat aksinya, Gisya berpesan agar kaum hawa tidak ragu mengambil peran nyata di lokasi bencana.

"Untuk para perempuan, jangan malu untuk turun ke lapangan. Kita juga bisa bersama-sama memadamkan api," ucapnya.

Sementara itu rekannya, Hani, mengaku bergabung sebagai relawan pada Agustus 2026. Dia tergerak untuk ikut memadamkan api karena kecintaannya yang mendalam terhadap lingkungan dan hutan.

Ia menilai karhutla sebagai bencana yang memerlukan penanganan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pemadaman karhutla bukan hanya tugas pemerintah, melainkan juga tanggung jawab masyarakat.

"Awal-awal ikut pemadaman, napas memang terasa agak sesak dan mata perih. Namun, kalau bukan kita, siapa lagi yang mau ikut memadamkan api?" ujarnya.

Selain memadamkan api, ketiganya kerap memberikan imbauan pencegahan kebakaran kepada masyarakat. Langkah itu diambil guna meminimalkan risiko munculnya titik api baru akibat pembakaran lahan oleh pihak tertentu yang tidak bertanggung jawab.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....