Literasi Keuangan Dorong Kemandirian Penyandang Disabilitas
- 15 Agt 2026 20:19 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Literasi dan inklusi keuangan menjadi bagian penting dalam mendorong kemandirian penyandang disabilitas, terutama dalam memperoleh akses terhadap layanan keuangan yang aman dan setara. Pembahasan tersebut mengemuka dalam program Sore Ceria Pro 2 RRI Palangka Raya yang menghadirkan narasumber dari OJK Peduli, Gede Agus Adyatmika dan Anas Wahid Maulana. Perbincangan mengangkat tema “Membangun Kemandirian Penyandang Disabilitas melalui Literasi dan Inklusi Keuangan” dengan pendekatan perjalanan hidup menuju kemandirian finansial. Materi tersebut kembali relevan dalam upaya memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pentingnya akses keuangan yang inklusif. Kamis, 13 Agustus 2026.
Pembahasan menyoroti bahwa literasi keuangan tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan menabung, tetapi juga kemampuan memahami cara mengelola uang dan mengambil keputusan keuangan secara tepat. Sementara inklusi keuangan memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk menggunakan layanan keuangan yang aman dan nyaman sesuai dengan kebutuhannya. Akses yang setara juga tidak berarti seluruh orang harus mendapatkan perlakuan yang sama, tetapi layanan perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Hal tersebut menjadi penting agar penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang lebih luas dalam mengembangkan kemandirian finansial.
Dalam pembahasan tersebut, disampaikan pesan bahwa “Mimpi tidak mengenal keterbatasan. Yang dibutuhkan adalah kesempatan dan akses yang setara,” ujarnya. Pesan itu menggambarkan pentingnya membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk mendapatkan layanan keuangan yang mudah diakses dan ramah. Pembahasan juga menekankan peran lembaga keuangan dalam menyediakan fasilitas yang mendukung aksesibilitas, seperti jalur yang mudah dijangkau, informasi yang jelas, petugas yang siap membantu, serta pemanfaatan teknologi digital. Dengan akses yang semakin terbuka, layanan keuangan diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya mendukung masyarakat mencapai tujuan finansialnya.
Kemandirian finansial juga dapat dibangun melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Dalam obrolan tersebut dicontohkan seorang penyandang disabilitas yang menjalankan usaha kecil dari rumah, kemudian mulai menata keuangan dengan membuka rekening, mencatat pemasukan dan pengeluaran, serta memanfaatkan pembayaran melalui QRIS. Pengelolaan tersebut membuat keuangan usaha menjadi lebih tertata sekaligus membuka peluang bagi usaha untuk berkembang. Pesan yang ditekankan dalam pembahasan tersebut adalah “Kemandirian dimulai dari langkah kecil yang dilakukan dengan disiplin,” ucapnya.
Selain membangun kemandirian, pemahaman mengenai keamanan keuangan juga menjadi perhatian. Masyarakat diingatkan untuk tidak memberikan PIN, password, maupun kode OTP kepada pihak lain serta mewaspadai tautan yang mencurigakan. Informasi mengenai layanan keuangan juga perlu dipastikan berasal dari kanal resmi, termasuk dengan mengenali ciri-ciri investasi ilegal dan pinjaman online ilegal. Melalui edukasi tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya mampu mengelola keuangan, tetapi juga mampu melindungi diri dari berbagai risiko kejahatan keuangan.
Pembahasan mengenai literasi dan inklusi keuangan bagi penyandang disabilitas diharapkan dapat meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya akses yang setara. Ketika akses keuangan terbuka, penyandang disabilitas memiliki kesempatan untuk mengelola keuangan, mengembangkan usaha, dan mengambil keputusan finansial secara lebih mandiri. Literasi keuangan juga menjadi bekal untuk membangun kebiasaan pengelolaan keuangan yang sehat dan aman. Pada akhirnya, inklusi keuangan diharapkan dapat menciptakan masyarakat yang lebih setara dengan memastikan tidak ada kelompok yang tertinggal dalam memperoleh kesempatan ekonomi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....