Pemko Palangka Raya Pastikan Harga BBM Stabil, Waspadai Gangguan Distribusi

  • 14 Apr 2026 19:36 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Pemerintah Kota Palangka Raya memastikan bahwa kondisi harga bahan bakar minyak (BBM) hingga saat ini masih relatif stabil di tengah dinamika situasi global. Stabilitas tersebut dinilai menjadi kabar baik bagi masyarakat, mengingat sejumlah negara lain mengalami lonjakan harga energi yang cukup signifikan.

Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini, menyampaikan bahwa secara umum kebutuhan BBM di dalam negeri, khususnya di daerah, masih dalam kondisi tercukupi. Hal ini tercermin dari belum adanya kenaikan harga yang berarti jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang terdampak krisis energi global.

Meski demikian, pemerintah daerah tetap mewaspadai adanya laporan terkait kekosongan stok di sejumlah titik. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius, mengingat distribusi BBM merupakan faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan aktivitas masyarakat sehari-hari.

”Kami pemerintah kota melalui dinas terkait akan segera berkoordinasi dengan pihak Pertamina. Koordinasi tersebut bertujuan untuk memperoleh penjelasan resmi mengenai kondisi distribusi serta ketersediaan cadangan BBM di wilayah Palangka Raya,” katanya.

Pemerintah menegaskan bahwa penyediaan dan distribusi BBM merupakan kewenangan dari Pertamina, sehingga komunikasi intensif dinilai penting untuk memastikan tidak terjadi gangguan pasokan yang berkepanjangan di lapangan.

Di sisi lain, pemerintah kota berharap kebutuhan pokok masyarakat, khususnya BBM, dapat terus terpenuhi dengan baik. Apalagi, berdasarkan informasi yang diterima, harga BBM di Indonesia saat ini masih tergolong lebih rendah dibandingkan dengan sejumlah negara lain yang mengalami tekanan akibat situasi global.

Sementara itu, Anggota Komisi II DPRD Kota Palangka Raya, Khemal Nasery, berpandangan kekosongan BBM dengan jenis tertentu saat ini seperti pertalite, dexlite, dan lainnya tidak hanya dirasakan masyarakat namun juga anggota DPRD saat beraktivitas menjadi terganggu. Untuk masyarakat tentunya yang paling berimbas adalah pelaku usaha, karena harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar.

Situasi ini berbeda dengan kondisi normal yang biasanya hanya membutuhkan waktu singkat, sehingga berdampak langsung pada terganggunya aktivitas ekonomi sehari-hari. Kosongnya BBM membuat biaya operasional pelaku usaha meningkat karena waktu dan tenaga yang terbuang dalam antrean.

“Hal ini berpotensi mendorong terjadinya inflasi, seiring dengan naiknya biaya produksi dan distribusi barang di tengah sulitnya memperoleh BBM,” ujarnya.

Dengan kondisi harga yang masih stabil tersebut, pemerintah berasumsi bahwa ketersediaan BBM secara nasional masih dalam batas aman. Namun demikian, pengawasan dan koordinasi akan terus dilakukan guna memastikan masyarakat tidak mengalami kesulitan dalam memperoleh BBM di daerah.

Dampak konflik geopolitik yang melibatkan Iran turut dirasakan pada sektor energi, termasuk di Indonesia. Meski pemerintah tidak mengambil kebijakan untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), kondisi di lapangan menunjukkan adanya kelangkaan yang memicu antrean panjang di sejumlah daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....