Lilis Lamiang, Benda Pusaka dalam Ritual Tiwah Dayak

  • 02 Des 2025 11:31 WIB
  •  Palangkaraya

KBRN, Palangka Raya: Lilis lamiang merupakan salah satu perlengkapan penting dalam upacara Tiwah, yaitu ritual masyarakat Dayak Ngaju untuk mengantar roh orang yang telah meninggal menuju alam baka atau Lewu Tatau.

Upacara ini dikenal sarat makna dan penuh simbolisme, sehingga setiap perlengkapan adat yang digunakan memiliki fungsi serta nilai tersendiri.

Dalam konteks tersebut, lilis lamiang dipercaya mampu memberikan kekuatan bagi roh yang sedang diantar. Kehadirannya menjadi penegas bahwa masyarakat Dayak masih menjaga warisan adat dari leluhur mereka.

Sebagai benda sakral, lilis lamiang selalu diperlakukan dengan penuh hormat. Penggunaannya tidak sembarangan dan hanya diperuntukkan bagi kebutuhan upacara Tiwah.

Perlakuan khusus ini menunjukkan bahwa masyarakat Dayak memandang lilis lamiang bukan sekadar benda fisik, melainkan simbol spiritual yang memiliki peran tertentu dalam keberlangsungan ritual. Karena itu, setiap proses yang melibatkan lilis lamiang biasanya dilakukan dengan aturan dan tata cara yang sudah diwariskan secara turun-temurun.

Dalam pelaksanaannya, lilis lamiang umumnya dikenakan oleh keluarga yang sedang menjalankan upacara Tiwah. Mereka memakainya sebagai bentuk perlindungan selama mengikuti rangkaian prosesi adat.

Menurut kepercayaan, lilis lamiang mampu menjaga pemakainya dari gangguan makhluk halus atau energi yang dianggap dapat menghambat jalannya upacara.

Oleh sebab itu, keluarga yang terlibat dalam Tiwah biasanya menyiapkan lilis lamiang dengan teliti dan penuh kesadaran akan makna sakralnya.

Penggunaan lilis lamiang oleh keluarga ini bukanlah tradisi baru. Sejak lama, masyarakat Dayak telah meyakini bahwa benda tersebut membantu menjaga keselamatan selama berlangsungnya Tiwah.

Karena itu, lilis lamiang tidak dipandang sebagai aksesori biasa, melainkan perlengkapan adat yang memiliki fungsi simbolis dan spiritual. Tradisi inilah yang membuat lilis lamiang terus dilestarikan dari generasi ke generasi.

Selain keluarga, Basir Balian atau pemimpin upacara juga memakai lilis lamiang. Benda ini biasanya diikatkan pada pergelangan tangan sebagai tanda pengenal sekaligus simbol kekuatan bagi dirinya.

Basir Balian menjalankan tugas penting dalam memimpin dan menjaga kelancaran Tiwah, sehingga lilis lamiang diyakini dapat membantu memberikan fokus dan keteguhan batin selama prosesi. Kehadiran lilis lamiang ini menambah keyakinan bahwa upacara dijalankan sesuai aturan adat.

Secara bentuk, lilis lamiang merupakan manik-manik lama yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Banyak yang percaya bahwa manik-manik tersebut memiliki nilai sejarah serta energi spiritual tertentu.

Meskipun tampil sederhana, lilis lamiang dianggap sakral sehingga tidak boleh digunakan di luar keperluan adat. Benda ini biasanya disimpan dengan baik karena hanya dikeluarkan untuk acara khusus, menjadikannya simbol tradisi yang tetap bertahan hingga kini.

Secara keseluruhan, lilis lamiang memiliki sejumlah fungsi dalam upacara Tiwah. Selain sebagai simbol sakral dalam ajaran Hindu Kaharingan, benda ini juga menjadi penanda bagi Basir Balian saat menjalankan tugasnya.

Lilis lamiang dipercaya memberikan ketenangan, kekuatan, serta perlindungan bagi pemakainya dari hal-hal buruk selama upacara. Sebagian masyarakat bahkan meyakini bahwa lilis lamiang membawa keberuntungan.

Dengan berbagai fungsi tersebut, lilis lamiang tetap menjadi unsur penting yang memperkaya makna upacara adat Tiwah. (Elsi)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....