Ritual Tiwah, Warisan Upacara Sakral Dayak Ngaju

  • 23 Nov 2025 17:19 WIB
  •  Palangkaraya

KBRN, Palangka Raya: Desa Tuwung, Kecamatan Kahayan Tengah, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, diselimuti suasana sakral dan meriah sepekan terakhir saat warga Suku Dayak Ngaju penganut Hindu Kaharingan menggelar ritual tiwah.

Upacara kematian adat terbesar ini bertujuan mengantarkan roh leluhur ke surga abadi, yang dikenal sebagai Lewu Tatau. Di tengah modernisasi, warga Desa Tuwung tetap menjaga warisan leluhur melalui prosesi yang menjadi puncak penghormatan terhadap arwah.

Pelaksanaan Tiwah dimulai dengan penentuan siapa saja yang akan ditiwahkan, diikuti pembangunan sarana ritual. Struktur utama yang dibangun meliputi Balai Nyahu, tempat Basir memimpin upacara, sangkaraya sebagai panggung utama, dan Sapundu, patung yang berfungsi untuk mengikat hewan kurban selama prosesi.

Setiap persiapan ini dilakukan secara gotong royong oleh warga, menunjukkan kekuatan solidaritas komunitas Dayak Ngaju.

Tiwah merupakan kewajiban agama Hindu Kaharingan, karena roh yang belum ditiwahkan dipercaya tetap berada di dunia dan dapat membawa kesialan atau penyakit bagi keluarga yang ditinggalkan.

Upacara ini berlangsung kurang lebih satu bulan, bertujuan menyempurnakan perjalanan roh ke lewu tatau. Selain itu, tiwah membebaskan keluarga dari pantangan adat (rutas) yang mengikat sejak kematian.

Ritual dipimpin oleh pemuka adat, yaitu basir dan upo, pemimpin upacara wanita. Prosesi dimulai dengan penggalian dan penyucian tulang jenazah yang telah lama dikubur.

Tulang tersebut dibersihkan dengan air suci dan diletakkan sementara sebelum puncak upacara. Puncak Ritual Tiwah ditandai dengan persembahan hewan kurban, seperti kerbau atau sapi, yang diikat pada tiang berukir sapundu. Penyembelihan hewan melambangkan bekal dan kendaraan arwah menuju lewu tatau.

Suasana upacara semakin hidup dengan tarian manganjan, tarian sakral energik yang dilakukan secara bergantian oleh keluarga dan masyarakat.

Tarian ini diiringi musik tradisional yang bertalu-talu, biasanya dilakukan sore hingga malam. Solidaritas antar keluarga atau anak liau terasa kuat, mempererat tali persaudaraan dan meringankan beban persiapan upacara.

Pada hari terakhir, tulang yang telah disucikan ditempatkan dalam sandung atau pambak, rumah kecil berukir indah sebagai makam akhir.

Patung sapundu diletakkan di atas Sandung sebagai tanda bahwa tugas keluarga di dunia telah selesai, dan arwah telah selamat mencapai lewu tatau. Momen ini menjadi simbol penyelesaian tanggung jawab spiritual keluarga.

Ritual Tiwah tidak hanya menjaga kelestarian tradisi, tetapi juga menjadi daya tarik budaya unik bagi Kalimantan Tengah. Upacara agung ini telah diakui sebagai warisan budaya Indonesia, menegaskan nilai historis dan budaya yang tinggi.

Melalui Tiwah, masyarakat Dayak Ngaju terus meneguhkan identitas spiritual sekaligus memperkuat solidaritas sosial di tengah arus modernisasi. (Heni Maharani)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....