Rumah Betang, Warisan Agung Dayak yang Tetap Ada

  • 23 Nov 2025 13:39 WIB
  •  Palangkaraya

KBRN, Palangka Raya: Rumah Betang atau yang kerap disebut rumah panjang, merupakan ikon arsitektur tradisional masyarakat Dayak yang masih berdiri megah di sejumlah wilayah Kalimantan.

Hunian ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat berteduh, tetapi juga menjadi pusat kehidupan sosial, budaya, hingga spiritual masyarakat Dayak sejak zaman dahulu.

Terletak terutama di kawasan hulu sungai yang menjadi pusat permukiman suku Dayak, Rumah Betang menyimpan nilai historis sekaligus filosofi kehidupan yang terus diwariskan lintas generasi.

Sebagai rumah adat, Rumah Betang memiliki ciri khas bentuk memanjang dengan struktur panggung yang ditopang tiang-tiang kayu ulin atau kayu besi.

Ukurannya sangat bervariasi, mulai dari panjang 30 hingga 150 meter, dengan lebar 10 sampai 30 meter. Tinggi tiang penyangganya bisa mencapai 1–5 meter, sebuah desain cerdas yang dibuat untuk menghindari banjir dan ancaman binatang buas di daerah pedalaman Kalimantan.

Keunikan Rumah Betang juga terletak pada konsep hunian komunal yang dihuni oleh banyak keluarga dalam satu bangunan. Setiap keluarga memiliki ruang masing-masing, namun tetap berbagi ruang publik seperti beranda atau pane yang digunakan untuk bersantai, berdiskusi, hingga menerima tamu. Sistem hidup bersama ini menjadi simbol kuatnya ikatan kekeluargaan dan gotong royong dalam kehidupan masyarakat Dayak.

Selain sebagai tempat tinggal, Rumah Betang berperan penting sebagai pusat kegiatan adat dan upacara tradisional. Berbagai pertemuan penting, musyawarah adat, hingga ritual keagamaan kerap dilaksanakan di rumah ini. Seluruh aktivitas masyarakat diatur oleh hukum adat yang disepakati bersama, mencerminkan kehidupan yang harmonis, tertib, serta menjunjung tinggi nilai saling menghormati.

Rumah Betang juga mengandung filosofi mendalam tentang kesetaraan, persatuan, kejujuran, dan kesetiaan. Desain memanjang yang membuat semua keluarga tinggal sejajar melambangkan bahwa setiap orang memiliki kedudukan setara.

Selain itu, hubungan masyarakat Dayak dengan alam tercermin kuat melalui pemilihan material kayu tahan lama dan penataan ruang yang berpadu dengan lingkungan sekitar.

Meski begitu, keberadaan Rumah Betang kini semakin jarang dijumpai, terutama di wilayah perkotaan. Modernisasi dan perubahan gaya hidup membuat beberapa rumah tradisional ini mulai ditinggalkan.

Namun, banyak pula yang masih bertahan dan dilestarikan sebagai objek wisata budaya serta pusat kegiatan adat, menjadi bukti nyata kekayaan warisan leluhur yang tetap dijaga.

Setiap daerah di Kalimantan memiliki sebutan berbeda untuk Rumah Betang. Di Kalimantan Barat dikenal sebagai Rumah Panjang atau Radakng, di Kalimantan Tengah disebut Lewu, sementara di Kalimantan Timur dan Utara dikenal sebagai Lou, Lamin, atau Baloi.

Apa pun sebutannya, Rumah Betang tetap menjadi simbol kebersamaan, kekuatan budaya, dan kearifan lokal masyarakat Dayak yang patut dilestarikan bagi generasi masa depan. (Lia Amelia)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....