Sapundu Dayak Ngaju dalam Ritual Sakral Tiwah

  • 18 Nov 2025 11:48 WIB
  •  Palangkaraya

KBRN, Palangka Raya: Patung Sapundu memegang peran penting dalam upacara sakral Tiwah, salah satu ritual paling suci dalam tradisi Dayak Ngaju.

Dalam adat ini, Sapundu bukan sekadar patung kayu, tetapi simbol kehidupan seseorang yang telah meninggal, diukir untuk menghormati dan mengantarkan rohnya menuju alam keabadian.

Keberadaannya menjadi pelengkap utama dalam prosesi pensucian arwah yang dijalankan oleh masyarakat penganut Kaharingan.

Sapundu biasanya dibuat dari kayu ulin, kayu keras yang tahan ratusan tahun. Pembuatannya tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Hanya seniman atau pemahat tertentu yang memiliki keahlian khusus yang dapat mengukirnya. Mereka disebut Basirau dan dipercaya mendapat perlindungan spiritual selama proses pengerjaan patung berlangsung. Hal ini menunjukkan betapa sakral dan berharganya proses pembuatan sapundu dalam adat Dayak Ngaju.

Motif ukiran pada sapundu memiliki makna yang dalam tentang melambangkan kekuatan, perlindungan, ikatan dengan alam, serta hubungan dengan dunia roh.

Setiap garis ukiran bukan sekadar estetika, melainkan narasi tentang karakter, sifat, dan kehidupan orang yang telah tiada. Karena itu, sapundu tidak hanya dilihat sebagai karya seni, tetapi juga sebagai representasi budaya, sosial, dan religius yang menyatu dalam tradisi tiwah.

Dalam upacara tiwah, sapundu berfungsi sebagai jembatan roh yaitu tempat di mana arwah dipandu menuju Lewu Liau atau surga menurut kepercayaan Kaharingan. Patung ini dipercaya menjadi penjaga perjalanan arwah dan simbol penghormatan terakhir keluarga kepada orang yang telah meninggal.

Letaknya biasanya berdampingan dengan sandung, tempat penyimpanan tulang, menegaskan perannya dalam ranah sakral kehidupan spiritual masyarakat Dayak.

Proses pembuatan sapundu pun tidak sederhana. Selain membutuhkan teknik ukir yang rumit, pembuatannya juga memerlukan ritual khusus sebagai bentuk izin dan perlindungan.

Waktu pengerjaannya dapat memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, tergantung detail ukiran dan tingkat kesulitannya. Sapundu hanya dibuat ketika keluarga berniat melaksanakan ritual tiwah, sehingga setiap patung memiliki nilai personal yang sangat kuat.

Saat upacara tiwah berlangsung, sapundu didirikan di lokasi upacara dan memiliki fungsi praktis sebagai tempat mengikat hewan kurban seperti kerbau, sapi, dan babi. Namun di balik fungsi fisiknya, keberadaan patung ini lebih dimaknai sebagai wujud pengabdian kepada ajaran ranying hatalla langit, Tuhan dalam kepercayaan Kaharingan. Upacara tiwah sendiri merupakan kewajiban suci, bukan sekadar tradisi turun-temurun.

Pada akhirnya, sapundu merupakan warisan budaya yang sarat makna, menggabungkan seni ukir tradisional, keyakinan spiritual, dan penghormatan kepada leluhur.

Setiap patung menyimpan kisah yang mendalam tentang perjalanan hidup seseorang sebelum menuju alam keabadian. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita menjaga dan melestarikan budaya luhur ini agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya. (Marsi Natalia)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....