Ragam Ketupat Suku Dayak, Menjadi Kelengkapan Sarana Ritual
- 06 Jun 2025 15:00 WIB
- Palangkaraya
KBRN, Palangka Raya: Ketupat bukan hanya menjadi simbol tradisi bagi sebagian masyarakat Kalimantan Tengah tetapi juga memiliki makna penting dalam ritual keagamaan Hindu Kaharingan suku Dayak di Kalimantan Tengah.
Di kalangan masyarakat Dayak, ketupat menjadi salah satu kelengkapan utama dalam berbagai upacara maupun ritual.
Ketupat suku Dayak biasanya disajikan sebagai bagian dari persembahan dalam ritual syukur atau pembersihan, yang bertujuan memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi yang melaksanakannya.
Proses pembuatan ketupat ini pun sarat makna, dimulai dari pemilihan bahan, pembungkusan dengan daun kelapa muda hingga cara memasaknya yang diwariskan secara turun-temurun.
Salah seorang Basir Rohaniawan Hindu Kaharingan Sika E Siman mengatakan, Dalam setiap ritual, ketupat selalu hadir sebagai lambang harapan akan kehidupan yang harmonis dan penuh berkah. Jumat, (6/6/2025).
“Ketupat bagi kami bukan sekadar makanan, melainkan simbol kesucian dan rasa syukur kepada leluhur dan alam,” ujar seorang tokoh adat Dayak di Palangka Raya," ujarnya.
Keunikan ketupat suku Dayak terletak pada bentuk dan cara penyajian yang berbeda dari daerah lain, sekaligus menjadi wujud kearifan lokal yang terus dilestarikan oleh masyarakat.
Ketupat ini juga biasanya diisi dengan beras taheta atau beras yang baru dipanen, terdiri dari beras biasa, beras ketan putih, ketan merah dan juga ketan hitam yang memperkaya makna spiritual dari ritual tersebut.
Pelestarian tradisi pembuatan dan penggunaan ketupat dalam ritual menjadi bagian penting dari upaya menjaga budaya suku Dayak agar tidak punah di tengah modernisasi. Masyarakat dan generasi muda terus didorong untuk memahami dan melestarikan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....