Tradisi Membuat Lamang Warisan Leluhur Suku Dayak

  • 21 Jan 2025 14:46 WIB
  •  Palangkaraya

KBRN, Palangka Raya: Membuat lamang, hidangan khas berbahan dasar beras ketan yang dimasak dalam bambu, merupakan tradisi yang terus dijaga oleh masyarakat Dayak sebagai bagian dari warisan leluhur. Kegiatan ini bukan sekadar memasak, melainkan juga menjadi wujud penghormatan terhadap alam dan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan komunitas.

Lamang biasanya dibuat pada momen-momen penting, seperti upacara adat, perayaan panen, atau acara keluarga besar. Proses pembuatannya melibatkan banyak tahapan yang sarat makna filosofis. Mulai dari pemilihan bambu yang harus segar hingga penyiapan bahan dasar seperti beras ketan, santan kelapa, dan garam. Bambu yang digunakan diyakini memberikan aroma alami yang memperkaya cita rasa lamang.

Menurut budayawan Sidik R Usop, lamang melambangkan keseimbangan antara manusia dan alam. Proses memasaknya, yang menggunakan api kecil dan bambu sebagai wadah, dianggap sebagai simbol keharmonisan antara elemen-elemen alam, yaitu tanah, air, api, dan udara. Selasa, (21/1/2025).

Lebih lanjut dikatakan, tradisi membuat lamang juga menjadi momen kebersamaan bagi masyarakat Dayak. Dalam acara tertentu, seluruh anggota keluarga atau komunitas berkumpul untuk membantu prosesnya, mulai dari menyiapkan bahan hingga menjaga api saat bambu dimasak. Anak-anak sering dilibatkan untuk belajar memahami tradisi, sedangkan para orang tua berbagi cerita-cerita lama sambil bekerja.

“Bambu diambil dengan doa, sebagai tanda penghormatan kepada hutan yang telah memberikan hasilnya. Proses memasak lamang juga harus sabar, karena jika terburu-buru, hasilnya tidak akan sempurna,” ujarnya.

Di era modern, tradisi membuat lamang menghadapi tantangan, terutama dengan semakin berkurangnya generasi muda yang memahami nilai-nilai di balik proses ini. Banyak yang lebih memilih cara praktis dengan membeli lamang yang sudah jadi. Namun, komunitas adat terus berupaya menjaga tradisi ini dengan mengadakan pelatihan dan melibatkan generasi muda dalam kegiatan adat.

Dengan berbagai upaya pelestarian, tradisi membuat lamang tetap hidup di tengah masyarakat Dayak. Selain sebagai bagian dari budaya, lamang juga mulai diperkenalkan sebagai produk kuliner khas Kalimantan Tengah yang memiliki potensi besar dalam mendukung pariwisata budaya di daerah tersebut.

Lamang, dengan cita rasa autentik dan nilai filosofis yang mendalam, menjadi bukti nyata bahwa tradisi bukan sekadar masa lalu, melainkan juga bagian dari identitas yang terus diwariskan untuk masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....