Mengenal Abah Guru Sekumpul, Ulama Kharismatik Asal Kalimantan
- 19 Mar 2024 21:28 WIB
- Palangkaraya
KBRN, Palangka Raya: Peran ulama dalam kehidupan umat muslim sangatlah penting. Bahkan di dalam Islam, kedudukan ulama dikategorikan sebagai 'Warosatul Anbiya’ atau sebagai pewaris para nabi. Tak heran, ketinggian ilmu agama dan kesalehannya kerap menjadi panutan bagi masyarakat.
Di Kalimantan, pernah terdapat terdapat seorang ulama kharismatik yaitu Abah Guru Sekumpul. Ia memiliki nama asli Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al-Banjari. Julukan Abah Guru Sekumpul tersemat padanya, lantaran tempatnya mengajar dan berdakwah berada di daerah Sekumpul, Martapura.
Abah Guru Sekumpul lahir di Desa Tunggul Irang, Kalimantan Selatan pada 11 Februari 1942 dari pasangan Abdul Ghani bin H. Abdul Manaf bin Muhammad Seman dan Hj. Masliah binti H. Mulya bin Muhyiddin. Ia juga merupakan keturunan ke-8 dari ulama kenamaan Banjar, yakni Maulana Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al Banjari.
Dilahirkan dari keluarga yang agamis, sejak kecil Abah Guru Sekumpul sudah dibekali ilmu agama oleh kedua orang tuanya. Mereka mengajarinya ilmu tauhid, keterampilan membaca Al-Quran, budi pekerti dan rasa cinta kasih serta penghormatan terhadap para ulama.
Abah Guru Sekumpul juga memiliki nama kecil Qusyairi dan memulai pendidikan formalnya di Madrasah Darussalam, Martapura. Selanjutnya, ia melanjutkan pendidikan menengah pertamanya di Madrasah Tsanawiyah Darussalam di kota yang sama.
Bersamaan dengan menempuh pendidikan formal, Abah Guru Sekumpul juga menimba ilmu pada beberapa guru yang memiliki spesifikasi keilmuan tertentu, misalnya Al-Alim Al-Fadhil Sya’rani Arif. Kemudian, pamannya yang bernama Guru Seman juga turut andil dalam mendidiknya.
Selain itu, Abah Guru Sekumpul juga terkenal sebagai orang yang memiliki sifat mulia, seperti rendah hati, penyayang terhadap sesama, dan penyabar. Karena keistimewaannya itu, banyak orang dari berbagai penjuru daerah di Indonesia berguru kepadanya.
Ulama yang juga kerap dipanggil sebagai Guru Ijai Sekumpul ini memulai dakwahnya di Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Ia juga membuka pengajian di Keraton Martapura untuk menunjang pelajaran para santri, terutama untuk pelajaran nahwu dan saraf.
Seiring berjalannya waktu, pengajian yang dipimpinnya mulai merambah ke kalangan masyarakat umum. Pengajian pun berkembang pesat dengan bertambahnya kitab-kitab fikih, tasawuf, tafsir, dan hadis. Selain itu, ia juga menyebarkan Maulid al-Habsyi atau Simthud Durar karya Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi dan mengajarkan bacaan wirid, terutama zikir tarekat Sammaniyah kepada jamaah.
Ulama ini menghembuskan napas terakhirnya pada 10 Agustus 2005. Ia meninggal dunia di kediamannya karena komplikasi penyakit gagal ginjal, setelah sebelumya sempat dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura selama 10 hari karena penyakit yang dideritanya.
Setiap tahunnya, umat muslim dari penjuru Indonesia memperingati haul akbar Abah Guru Sekumpul. Mereka berbondong-bondong mempersiapkan acara tersebut sejak sebulan sebelum acara dimulai. Tak tanggung-tanggung, jumlah pengunjung yang hadir di acara tersebut bisa mencapai ratusan ribu orang yang mayoritas datang dari Kalimantan dan Jawa.
Rangkaian acara haul Abah Guru Sekumpul dimulai dari pengajian untuk masyarakat umum. Selang beberapa hari kemudian diadakan pengajian untuk undangan khusus. Terakhir, dilaksanakan pula acara haul tambahan yang biasanya diadakan di Musholla Ar-Raudah Sekumpul.
Meskipun sosoknya telah tiada namun karya-karya Abah Guru Sekumpul tetap dapat dipelajari, antara lain; Risalah Mubaraqah, Manaqib Asy-Syekh As-Sayyid Muhammad bin Abdul Karim Al-Qadiri Al-Hasani As-Samman Al-Madani, Ar-Risalatun Nuraniyah fi Syarhit Tawassulatis Sammaniyah, Nubdzatun fi Manaqibil Imamil Masyhur bil Ustadzil a’zham Muhammad bin Ali Ba’alawy.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....