Cara Menjaga Lisan dan Bermedsos saat Berpuasa

  • 12 Mar 2026 18:13 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Bulan Ramadan menjadi momentum bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah, tidak hanya melalui ibadah fisik seperti menahan lapar dan dahaga, tetapi juga dengan menjaga lisan dan perilaku, termasuk dalam bermedia sosial. Hal tersebut disampaikan oleh Hj. Mujibah, S.Ag dalam program Hikmah Ramadan di Pro1 RRI Palangka Raya, Kamis (12/3/2026).

Menurutnya, Ramadan memang dianjurkan untuk memperbanyak sedekah dan berbagai kebaikan. Namun, jika seseorang memiliki keterbatasan kemampuan untuk melakukannya secara materi, masih banyak bentuk kebaikan lain yang dapat dilakukan tanpa modal.

“Bulan puasa dianjurkan untuk banyak bersedekah. Tetapi kalau kemampuan kita tidak bisa melakukan seperti itu, lakukanlah kebaikan yang tidak memerlukan modal namun tetap bermanfaat, misalnya mengendalikan diri,” ujar Mujibah.

Ia menjelaskan, kemampuan mengendalikan diri sangat penting, karena seseorang yang mampu menahan lapar dan dahaga semestinya juga mampu menahan ucapan yang menyakiti orang lain. “Tatkala seseorang mampu menahan lapar dan dahaga, semestinya ia juga mampu menahan kata-kata yang melukai atau membicarakan aib orang lain,” katanya.

Menurut Mujibah, seorang Muslim di bulan Ramadan perlu menjaga kualitas ibadahnya dengan menahan diri dari berbagai perilaku lisan yang tidak baik, seperti ghibah, dusta, cacian, makian, hingga ucapan yang sia-sia. “Bayangkan jika setiap komentar yang kita tulis di media sosial melewati ‘filter’ kebaikan terlebih dahulu.

"Berapa banyak sindiran atau ejekan yang bisa kita batalkan sebelum menekan tombol kirim,” ujarnya. Mujibah juga mengingatkan agar umat Muslim tidak terjebak dalam kebiasaan membicarakan aib orang lain di media sosial, seperti di grup percakapan atau kolom komentar.

Menurutnya, kebiasaan mengomentari kehidupan pribadi orang lain atau ikut-ikutan membully seseorang di dunia maya dapat diibaratkan seperti berpesta dengan sesuatu yang tidak baik. Ia menambahkan, dalam kajian Al-Qur’an juga diingatkan bahwa sebagian besar percakapan manusia berpotensi sia-sia bahkan berdosa, kecuali percakapan yang mengajak kepada kebaikan.

“Percakapan yang bernilai adalah yang mengajak bersedekah, mengajak kepada kebaikan, atau mendamaikan perselisihan,” katanya. Karena itu, ia mengajak masyarakat menjadikan prinsip tersebut sebagai filter sederhana sebelum membagikan atau menulis sesuatu di media sosial.

Rekomendasi Berita