Makna Filosofi Kolak Makanan untuk Berbuka Puasa Ramadan
- 08 Mar 2026 12:50 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Setiap bulan Ramadan, kolak hampir selalu hadir sebagai salah satu hidangan favorit untuk berbuka puasa di Indonesia. Makanan manis yang biasanya terbuat dari pisang, ubi, santan, dan gula merah ini seolah menjadi simbol khas bulan suci yang dinantikan banyak orang saat waktu berbuka tiba.
Secara tradisi, kolak dikenal sebagai makanan yang mudah dibuat dan menggunakan bahan-bahan yang sederhana serta mudah ditemukan di masyarakat. Rasanya yang manis dan hangat dianggap cocok untuk mengembalikan energi tubuh setelah seharian menahan lapar dan dahaga saat berpuasa.
Selain alasan rasa dan kebiasaan, beberapa sejarawan kuliner juga menyebutkan bahwa kolak memiliki makna filosofis dalam budaya masyarakat. Kata “kolak” sering dikaitkan dengan istilah “khala” atau “khaliq” dalam bahasa Arab yang merujuk pada Sang Pencipta, sehingga hidangan ini sering dianggap sebagai pengingat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan selama bulan Ramadan.
Bahan-bahan dalam kolak juga sering dimaknai secara simbolis. Misalnya, gula merah melambangkan manisnya iman, santan menggambarkan kesucian, dan pisang yang lembut melambangkan harapan agar manusia memiliki hati yang lembut dan penuh kesabaran selama menjalani ibadah puasa.
Seiring waktu, kolak tidak hanya menjadi makanan berbuka, tetapi juga bagian dari tradisi Ramadan di berbagai daerah di Indonesia. Kehadirannya di meja makan keluarga maupun di pasar takjil menjadikan kolak sebagai salah satu hidangan yang memperkuat nuansa kebersamaan dan kehangatan selama bulan suci.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....