Ramadan, Pentingnya Menjaga Hati dan Memperbanyak Istighfar

  • 06 Mar 2026 04:03 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Bulan Ramadan dikenal sebagai bulan penuh ampunan. Ibadah puasa tidak hanya menahan lapar dan haus dari terbit fajar hingga terbenam matahari, tetapi juga menahan diri dari segala hal yang dapat mengurangi pahala, termasuk menjaga hati dan mengendalikan diri dari perbuatan dosa.

Hal tersebut disampaikan narasumber program Mutiara Pagi di PRO 1 Radio Republik Indonesia Palangka Raya, H. Muhammad Ansori, dalam tema “Ramadan Bulan Pengampunan Dosa”.

Ia menjelaskan, hati manusia dapat diibaratkan seperti bola kaca yang bening dan bersinar, atau seperti cermin. Ketika seseorang berbuat dosa, muncul satu titik hitam pada cermin tersebut. Jika dosa dilakukan terus-menerus tanpa taubat, maka titik-titik hitam itu akan semakin banyak hingga menutupi seluruh permukaan cermin dan membuatnya gelap.

“Jika orang yang berbuat dosa itu selalu beristighfar memohon ampun kepada Allah atas dosa yang telah diperbuatnya, maka titik-titik hitam yang menutupi bola kaca atau cermin itu akan terus berguguran sehingga kembali bersinar,” ujarnya, Jumat 6 Maret 2026.

Ia juga mengutip sabda Muhammad SAW tentang empat macam hati: hati yang bersih dan bercahaya sebagai tanda orang mukmin; hati yang hitam dan terbalik; hati yang terbungkus; serta hati yang berada di antara keimanan dan kemunafikan.

Menurutnya, Ramadan menjadi momentum terbaik untuk memperbanyak istighfar dan taubat. Istighfar adalah amalan sederhana namun memiliki dampak besar dalam membersihkan hati dan mengembalikan kejernihan iman.

Karena itu, menjaga hati menjadi bagian penting dalam kesempurnaan puasa. Rasa iri, dengki, sombong, dan tidak mau kalah dapat menghambat keberkahan ibadah. Melalui taubat dan istighfar yang tulus, diharapkan cahaya keimanan kembali bersinar dalam diri setiap Muslim sepanjang Ramadan dan seterusnya. (Celine Geovanny)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....