War Takjil dan Solidaritas Ramadan di Era Digital
- 27 Feb 2026 15:13 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Fenomena berburu takjil kini menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan, terutama di kalangan anak muda. Setiap sore menjelang berbuka, pasar kaget, lapak UMKM, hingga deretan pedagang kaki lima dipadati pemburu kolak, es buah, gorengan, dan aneka jajanan manis.
Istilah “war takjil ”populer di media sosial menggambarkan antusiasme masyarakat yang berburu takjil seolah berlomba mendapatkan menu favorit sebelum habis. Namun di balik tren yang terlihat seru dan penuh canda, ada denyut ekonomi kerakyatan yang ikut bergerak.
Ramadan menjadi momen emas bagi pelaku usaha kecil untuk meningkatkan pendapatan. Banyak ibu rumah tangga, mahasiswa, hingga pekerja lepas memanfaatkan momen ini untuk berjualan musiman.
Media sosial juga berperan besar dalam membentuk budaya itu. Rekomendasi lokasi, ulasan rasa, hingga video antrean panjang tersebar cepat dan memancing rasa penasaran.
Tak jarang, sebuah lapak sederhana bisa viral hanya karena satu menu unik atau tampilan yang menggugah selera. Efeknya, pembeli datang bukan hanya untuk berbuka, tetapi juga untuk pengalaman dan konten.
War takjil bukan sekadar tren musiman, fenemoma ini menjadi simbol bagaimana tradisi lama beradaptasi dengan semangat zaman. Ramadan mampu menghadirkan nilai spiritual, namun juga memberi ruang bagi kreativitas, ekonomi, dan kebersamaan untuk tumbuh berdampingan dalam suasana yang penuh berkah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....