Puasa Tak Hanya Menahan Lapar, Jaga Diri dari Maksiat
- 23 Feb 2026 12:56 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Puasa Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari segala perbuatan yang diharamkan Allah. Hal tersebut disampaikan Dosen Universitas Islam Negeri Palangka Raya, Ustadz Abdulah, dalam program PRO 2 RRI bertajuk TAULADAN (Tanya Ustadz di Bulan Ramadan).
Menurutnya, seseorang yang berpuasa harus menjaga seluruh anggota tubuhnya, termasuk pandangan dari maksiat mata yang dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala puasa.
Ustadz Abdulah mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, “Rubba shaimin laisa lahu min shiyamihi illal ju’ wal ‘athasy”, yang artinya, berapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus.
Ia menjelaskan, secara lahiriah kewajiban puasa memang gugur ketika seseorang telah menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan sejak fajar hingga magrib. Namun jika selama berpuasa masih melakukan perbuatan dosa, maka yang diperoleh hanyalah rasa lapar dan dahaga tanpa pahala.
“Itu tingkatan pertama, yaitu puasa umum. Sedangkan tingkatan kedua disebut saumul khusus, yakni puasa yang bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga lisan, pendengaran, pandangan, serta seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa dan maksiat,” ujarnya, Minggu, 22 Februari 2026.
Ia menegaskan, puasa yang berkualitas adalah puasa yang mampu menjaga hati agar senantiasa ingat kepada Allah dan tidak terjerumus pada hal-hal duniawi yang melalaikan.
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Abdulah juga menanggapi pertanyaan mahasiswa UIN Palangka Raya, Masrul Maulana, terkait kewajiban mencari nafkah yang dinilai dapat memengaruhi kualitas puasa.
Menurutnya, bekerja untuk mencari nafkah yang halal justru bernilai ibadah apabila diniatkan karena Allah. Aktivitas sehari-hari seperti bekerja dan makan dapat menjadi pahala apabila diniatkan untuk memperkuat ibadah.
“Seorang ibu yang merawat anak kecil pun tetap mendapat pahala besar, meskipun tidak sempat berzikir seperti biasa. Setiap perbuatan baik yang dianjurkan Allah dan Rasul-Nya termasuk bagian dari zikir,” ucapnya.
Ustadz Abdulah pun mengingatkan umat Muslim agar menjadikan Ramadan sebagai momentum meningkatkan kualitas ibadah, tidak hanya secara fisik tetapi juga secara spiritual dan moral.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....