Alasan Menyambut Gembira Bulan Ramadan
- 20 Feb 2026 18:24 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Palangka Raya melalui program Hikmah Ramadan menghadirkan narasumber Lilik Kholisotin, M.Pd pada Jumat 20 Februari 2026. Dalam tausiyahnya, ia mengajak umat Islam untuk menyambut bulan suci Ramadan dengan penuh kegembiraan serta memperbanyak amal ibadah, baik yang wajib maupun sunnah.
Lilik menyampaikan bahwa ibadah puasa memiliki keistimewaan tersendiri di sisi Allah SWT. Mengutip hadis qudsi, ia menegaskan bahwa Allah sendiri yang akan membalas pahala orang yang berpuasa.
“Dan sesungguhnya Aku akan membalasnya. Jadi Allah sendiri yang akan membalas ibadah puasa yang kita lakukan di bulan Ramadan dengan pahala yang berlipat, ada 10, 70, pokoknya hitungan Allah itu beda dengan hitungan manusia. Kalau Allah sudah berkehendak, maka tidak ada yang sulit bagi Allah,” ujarnya.
Menurutnya, momentum Ramadan harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah. Ibadah wajib memang telah ditentukan dan menjadi kewajiban setiap Muslim, namun ibadah sunnah perlu terus ditingkatkan agar pahala dilipatgandakan oleh Allah SWT.
“Sebagai orang beriman, yang wajib sudah pasti kita kerjakan. Tapi yang sunnah kita senantiasa menambah. Bacaan Al-Qur’an yang mungkin sebelumnya jarang, kita rajin. Amalan-amalan yang sebelumnya masih sedikit, kita tambah lagi supaya dilipatgandakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Lilik juga menekankan alasan mengapa umat Islam patut bergembira menyambut Ramadan, salah satunya karena adanya malam Lailatul Qadar.
| Baca juga: Ciri Orang Merugi di Bulan Ramadan |
Ia menjelaskan bahwa malam Lailatul Qadar hanya turun di bulan Ramadan, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Qadr.
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam Lailatul Qadar. Itu ada di bulan Ramadan. Kita dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa malam Lailatul Qadar berada di malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir Ramadan,” tuturnya.
Ia mengingatkan bahwa sering kali umat Islam justru disibukkan dengan urusan duniawi menjelang akhir Ramadan. Padahal, Rasulullah SAW memberi teladan dengan semakin meningkatkan ibadah di penghujung bulan suci tersebut.
“Ketika masuk 10 hari terakhir Ramadan, Rasulullah mengencangkan ikat pinggang, artinya beliau lebih fokus beribadah dan menjauhi hal-hal duniawi. Beliau melakukan iktikaf di masjid, benar-benar berdiam untuk beribadah,” katanya.
Dalam tausiyahnya, Lilik juga menyebutkan delapan hal yang mendasari umat Islam perlu bergembira menyambut Ramadan, di antaranya:
- Ramadan adalah bulan penuh ampunan.
- Pahala amal ibadah dilipatgandakan.
- Terdapat malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.
- Setan-setan dibelenggu.
- Dibukanya pintu surga dan ditutupnya pintu neraka.
- Momentum memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan.
- Kesempatan memperbanyak sedekah dan kepedulian sosial.
- Bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup.
Melalui kegiatan Hikmah Ramadan ini, MUI Palangka Raya berharap masyarakat dapat mempersiapkan diri secara spiritual agar Ramadan tidak berlalu tanpa peningkatan kualitas ibadah.
“Dengan pahala yang dilipatgandakan itu, maka kita menyambut gembira bulan Ramadan dan bertekad menjadi pribadi yang lebih baik,” ujar Lilik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....