274 Titik Karhutla dalam Dua Bulan, Menhut Kebut Modifikasi Cuaca di Palangka Raya

  • 20 Agt 2026 07:41 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni turun langsung meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kelurahan Petuk Katimpun, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu, 19 Agustus 2026 sore. Kunjungan kerja tersebut dilakukan di tengah meluasnya titik api di sejumlah wilayah kota yang memicu kabut asap pekat dan menekan kualitas udara ke level terburuk dalam beberapa hari terakhir.

Peninjauan ini berlangsung di tengah sorotan publik terhadap kinerja Kementerian Kehutanan dalam menangani karhutla yang terjadi di berbagai daerah.

Kehadiran Menhut di lokasi menjadi bagian dari langkah pemerintah pusat merespons tekanan publik dan parlemen, sekaligus memastikan koordinasi penanganan di lapangan berjalan optimal guna menekan dampak kabut asap yang telah mengganggu aktivitas masyarakat Palangka Raya.

Raja Juli Antoni menyampaikan, musim kemarau tahun ini berlangsung lebih ekstrem akibat pengaruh fenomena El Nino, yang menjadi salah satu faktor utama percepatan penyebaran api di lahan gambut Kalimantan Tengah.

Kondisi cuaca kering berkepanjangan tersebut, menurut dia, turut memperberat upaya pemadaman di lapangan, mengingat karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan secara tuntas begitu api menjalar ke bawah permukaan tanah.

"Ya itu salah satu tantangan, ya. Jadi yang ideal itu sebenarnya operasi modifikasi cuaca. Kalau seandainya ada awan semai, saya sudah berkoordinasi dengan Kepala BNPB dan Kepala BMKG. Bila ada awan semai sedikit pun, kira-kira secara teknis bisa disemai, kita akan lakukan," ujar Raja Juli Antoni.

Selain operasi modifikasi cuaca, Menhut menekankan pemadaman karhutla harus dibarengi dengan water bombing. "Sekarang sudah dimobilisasi BNPB ada lima helikopter water bombing. Kalau nanti masih dianggap kurang, dengan kebutuhan lapangan, kita masih membuka ruang. Kepala BNPB sudah mengatakan bisa menambah," ucapnya.

Berdasarkan data yang dihimpun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya mencatat sudah terjadi 274 kejadian karhutla sejak awal Juni 2026, dengan luas lahan terbakar yang terus bertambah hingga mencapai lebih dari 251 hektare. Kebakaran tersebar di sejumlah kecamatan, di antaranya Jekan Raya, Sebangau, Pahandut, dan Bukit Batu.

Salah satu titik kebakaran yang mendapat perhatian khusus berada di Kelurahan Petuk Katimpun, Kecamatan Jekan Raya, yang sempat mendekati permukiman warga. Kondisi ini mendorong Pemerintah Kota Palangka Raya memperpanjang status tanggap darurat karhutla dan kekeringan selama 29 hari, terhitung sejak 11 Agustus hingga 8 September 2026, menyusul keputusan bersama dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) setempat.

Dampak karhutla juga mulai mengganggu kualitas udara di Kota Palangka Raya. Data dari Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut BMKG mencatat indeks kualitas udara berada pada kategori tidak sehat dengan Air Quality Index (AQI) mencapai 154, disertai jarak pandang yang menyempit hingga hanya dua kilometer akibat kabut asap yang menyelimuti sejumlah ruas jalan utama.

Kondisi tersebut turut berdampak pada sektor kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan setempat mencatat tren peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dalam beberapa bulan terakhir, dengan kelompok balita menjadi yang paling rentan terdampak paparan asap.

Pemerintah Kota Palangka Raya telah mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap memburuknya kualitas udara akibat kabut asap karhutla, seperti menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, serta membatasi aktivitas anak-anak dan kelompok rentan di tengah kondisi udara yang belum membaik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....