OJK: Sektor Jasa Keuangan Stabil di Tengah Dinamika Global

  • 03 Jun 2025 21:53 WIB
  •  Palangkaraya

KBRN, Palangka Raya: Stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) nasional tetap terjaga di tengah dinamika tensi perdagangan dan kondisi geopolitik global yang meningkat. Hal ini disampaikan usai Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang digelar pada 28 Mei 2025.

Rapat tersebut mencermati perkembangan positif pada dinamika perdagangan internasional, terutama setelah tercapainya kesepakatan dagang permanen antara Amerika Serikat dan Inggris pada 8 Mei 2025. Kesepakatan ini menjadi yang pertama pasca-penundaan penerapan tarif resiprokal oleh AS.

Plt. Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi OJK, M. Ismail Rilis, menjelaskan bahwa tensi perdagangan global turut mereda setelah tercapainya kesepakatan dagang sementara antara AS dan Tiongkok pada 12 Mei 2025, yang berlaku selama 90 hari.

“Pelaku pasar menyambut baik kesepakatan tersebut sehingga mendorong penguatan pasar keuangan global. Hal ini juga berdampak pada penurunan volatilitas dan masuknya capital inflow ke negara-negara berkembang,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (3/6/2025).

Meski ketegangan geopolitik meningkat di beberapa kawasan, Ismail menyebut dampaknya masih terbatas dan relatif terlokalisir, sehingga belum memberikan gejolak besar terhadap pasar keuangan global.

Dari sisi makroekonomi global, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2025 menunjukkan pelemahan yang disertai dengan tren penurunan inflasi, mengindikasikan pelemahan permintaan global. Kebijakan moneter di banyak negara pun mulai melonggar, dengan sejumlah bank sentral menurunkan suku bunga, menyuntikkan likuiditas ke pasar, atau menurunkan cadangan wajib minimum. Sementara itu, kebijakan fiskal global cenderung ekspansif, meski ruangnya terbatas.

Di sisi lain, Federal Reserve AS (The Fed) menyiratkan pendekatan "FFR high for longer", dengan menunda penurunan suku bunga sambil menunggu kepastian dampak kebijakan tarif terhadap sejumlah indikator ekonomi. Kondisi ini membuat pasar merevisi proyeksi penurunan suku bunga acuan dari 3–4 kali menjadi dua kali sepanjang 2025, dengan penurunan pertama diperkirakan terjadi pada September.

Pasar juga mencermati rencana pengesahan RUU "One Big Beautiful Bill" yang berpotensi menambah defisit fiskal AS, sehingga berdampak pada penurunan peringkat utang oleh lembaga pemeringkat Moody’s, serta mendorong pelemahan pasar obligasi dan nilai tukar dolar AS.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....