Kue Wajik Ketan Melambangkan Simbol Keharmonisan dalam Tradisi Indonesia
- 13 Mei 2026 19:52 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Di tengah gempuran tren kuliner kekinian yang datang dan pergi, jajanan tradisional wajik tetap memiliki ruang istimewa di hati masyarakat.
Kudapan berbahan dasar beras ketan ini bukan sekadar pengganjal perut, melainkan simbol doa dan harapan dalam setiap gigitannya.
Wajik adalah kue tradisional Indonesia yang terbuat dari perpaduan beras ketan, gula merah, dan santan. Teksturnya yang padat namun lembut saat dikunyah memberikan sensasi "legit" yang khas. Dinamakan "Wajik" karena secara tradisional kue ini dipotong membentuk belah ketupat (wajik).
Tekstur ketan yang lengket melambangkan harapan akan hubungan silaturahmi yang erat dan tidak mudah terputus. Rasa manis yang dominan dari gula merah juga menjadi simbol doa agar kehidupan di masa depan senantiasa penuh kebahagiaan dan keharmonisan. Itulah kenapa, wajik seringkali hadir pada momen-momen transisi kehidupan, seperti prosesi hantaran pernikahan atau perayaan hari besar.
Dulu, wajik adalah "tamu wajib" dalam acara-acara sakral. Mulai dari sesepuh adat hingga keluarga yang sedang menggelar hajatan, syukuran, atau pernikahan, selalu menyajikan kudapan ini. Kini, wajik tak hanya ditemukan di acara adat, namun mudah didapatkan di pasar-pasar tradisional dan menjadi buruan para pecinta kuliner lintas generasi yang merindukan cita rasa autentik.
Bagaimana Proses Pembuatannya?
- Pengolahan Ketan: Beras ketan harus dikukus terlebih dahulu hingga setengah matang.
- Perpaduan Rasa: Di wadah terpisah, santan kental dan gula merah dimasak hingga mendidih dan sedikit berminyak.
- Teknik Mengaduk: Ketan kemudian dicampur ke dalam larutan gula dan santan, lalu diaduk perlahan di atas api kecil dalam waktu yang lama hingga cairan meresap sepenuhnya.
- Hasil Akhir: Setelah teksturnya lengket, padat, dan mengilat, barulah wajik dicetak dan didinginkan sebelum siap disajikan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....