Rahasia Lezat Wadi Ikan, Kuliner Fermentasi Khas Dayak

  • 04 Des 2025 12:48 WIB
  •  Palangkaraya

KBRN, Palangka Raya: Jika mendengar kata fermentasi, kebanyakan orang mungkin langsung teringat yoghurt, keju, tempe, atau kimchi, makanan yang sudah populer di berbagai belahan dunia. Namun, Kalimantan Tengah juga punya kuliner fermentasi yang tak kalah legendaris, yaitu Wadi Ikan.

Hidangan khas suku Dayak ini dibuat dari ikan yang difermentasi bersama garam, beras sangrai, dan aneka bumbu. Rasanya unik, gurih, sedikit asam, dan memiliki aroma khas yang justru menjadi pesona utama ketika disantap hangat-hangat bersama nasi.

Tradisi mengolah wadi bukanlah hal baru. Sejak zaman dahulu, masyarakat Dayak memanfaatkan proses fermentasi untuk mempertahankan kesegaran ikan dalam waktu lama, terlebih bagi mereka yang tinggal jauh dari pusat perdagangan.

ini kemudian diwariskan secara turun-temurun, hingga akhirnya tetap eksis sampai sekarang meski tren kuliner terus berubah. Kebertahanan wadi membuktikan bahwa makanan tradisional punya nilai adaptif yang kuat.

Jenis ikan yang digunakan untuk membuat wadi umumnya berasal dari sungai-sungai Kalimantan yang kaya akan sumber daya alam. Beberapa jenis yang sering dipakai adalah ikan patin, ikan haruan, dan ikan gabus. Masing-masing memiliki karakteristik daging yang cocok untuk difermentasi, sehingga menghasilkan cita rasa wadi yang khas dan bertekstur lembut.

Proses pembuatan Wadi Ikan sebenarnya cukup sederhana, namun tetap membutuhkan ketelitian. Ikan yang sudah dibersihkan diasinkan menggunakan garam butup atau garam bata, bukan garam dapur biasa, karena dapat menggagalkan proses fermentasi. Setelah itu, ikan dicampur dengan samak, yaitu beras sangrai yang ditumbuk halus.

Campuran tersebut lalu disimpan dalam wadah tertutup selama sekitar satu minggu, hingga muncul aroma fermentasi alami yang menandai bahwa wadi siap diolah.

Cara menikmati wadi pun beragam dan fleksibel. Banyak orang memilih menggorengnya seperti ikan pada umumnya, tetapi ada juga yang menumisnya dengan serai untuk aroma yang lebih segar.

Wadi bisa dipepes, dimasak berkuah, bahkan ada yang menikmatinya langsung tanpa dimasak lagi. Variasi cara mengolah ini menunjukkan betapa serbagunanya wadi dalam memenuhi selera setiap orang.

Dari pengamatan di Kantin Sayang, sebuah kantin kecil dekat Program Studi PG PAUD Universitas Palangka Raya, Wadi Ikan terbukti sangat digemari.

Menu ini selalu laris setiap kali tersedia. Seorang mahasiswi bernama Holy bahkan mengaku tidak pernah melewatkan kesempatan membeli Wadi.

“Rasanya enak banget, kalau ada Wadi di kantin, pasti aku selalu beli!” ujarnya.

Antusiasme sederhana semacam ini menggambarkan bahwa kuliner tradisional masih memiliki tempat istimewa di tengah kehidupan modern.

Menariknya, Wadi kini mulai diolah lebih kreatif oleh warung dan kafe lokal, mengikuti selera zaman. Muncul inovasi seperti tumis wadi bumbu pedas, nasi goreng wadi, hingga sambal wadi.

Transformasi ini menunjukkan bahwa budaya akan terus hidup selama diwariskan dengan cara relevan dan kreatif.

Wadi bukan sekadar makanan, tetapi juga representasi identitas dan kebanggaan masyarakat Kalimantan Tengah. Melestarikannya berarti menjaga aroma budaya agar tetap harum sepanjang waktu. (Holyyena Angelia)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....