Kue Gagatas Cita Rasa Tradisional Suku Dayak yang Mulai Langka
- 08 Okt 2025 15:34 WIB
- Palangkaraya
KBRN, Palangka Raya: Salah satu kuliner tradisional khas suku Dayak yang masih bertahan di tengah arus modernisasi makanan yakni kue Gagatas.
Terbuat dari bahan-bahan sederhana seperti ketan, gula merah, dan santan, kue ini memiliki tekstur lengket dan rasa manis gurih yang khas.
Biasanya dibungkus dengan daun pisang dan dibakar di atas bara api, Gagatas tak hanya menggugah selera tapi juga menyimpan nilai budaya yang tinggi.
Nama Gagatas sendiri berasal dari bahasa Dayak yang menggambarkan proses memasak yang pelan dan penuh kesabaran. Tak heran jika kue ini dulunya hanya dibuat pada momen-momen istimewa seperti panen raya, pernikahan, atau upacara adat. Proses pembuatannya yang tradisional membuat Gagatas tidak banyak diproduksi massal, sehingga mulai jarang ditemui, terutama di daerah perkotaan.
Salah satu hal yang membuat kue Gagatas istimewa adalah cara memasaknya. Adonan ketan yang sudah dicampur santan dan gula merah dimasukkan ke dalam cetakan dari bambu atau dibungkus daun pisang, kemudian dibakar perlahan.
Proses ini memberikan aroma khas asap dan rasa legit yang sulit ditiru oleh metode memasak modern. Ini menjadi bukti bagaimana masyarakat Dayak memadukan alam dan rasa dalam tiap sajian mereka.
Sayangnya, keberadaan kue Gagatas mulai tergeser oleh makanan modern dan instan. Banyak generasi muda Dayak bahkan tidak lagi mengenal kue ini, apalagi tahu cara membuatnya.
Padahal, kue ini bisa menjadi bagian dari identitas budaya yang memperkuat rasa bangga terhadap warisan leluhur. Beberapa komunitas lokal dan penggiat budaya kini mulai berupaya menghidupkan kembali Gagatas lewat festival kuliner dan pelatihan membuat makanan tradisional.
Melestarikan kue Gagatas bukan hanya soal mempertahankan rasa, tapi juga merawat ingatan kolektif tentang bagaimana orang Dayak hidup selaras dengan alam.
Dengan mengenalkan kembali kue ini kepada generasi muda dan wisatawan, kita tidak hanya menjaga warisan budaya, tapi juga membuka peluang ekonomi berbasis kearifan lokal. Gagatas adalah bukti bahwa makanan bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....