Pusar Wajib Dibersihkan dan Apa Dampaknya jika Terabaikan

  • 20 Agt 2026 10:55 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Pusar sering kali hanya dianggap sebagai celah kecil di tengah perut tanpa fungsi berarti setelah manusia lahir. Padahal, bekas pemotongan tali pusat saat lahir ini merupakan salah satu area tubuh yang paling rapi menyembunyikan ekosistem mikroskopis. Saat masih berada di dalam kandungan, saluran inilah yang menyambungkan nutrisi serta oksigen dari ibu ke janin.

Begitu manusia lahir dan bergerak mandiri, fungsi biologisnya memang berhenti, namun struktur fisiknya yang berlekuk tetap bertahan seumur hidup di bagian tengah perut.

Meski tidak lagi menyalurkan nutrisi, keberadaan pusar justru menyimpang potensi masalah kesehatan jika dibiarkan begitu saja. Penelitian dari Biodiversity of Navel Dust Project menemukan bahwa pusar manusia menyimpan rata-rata 67 jenis bakteri yang berbeda, berbaur bersama penumpukan sel kulit mati, keringat, sisa sabun, hingga serat pakaian. Siapa saja yang memiliki bentuk pusar mendalam (innie) berisiko tinggi mengalami penumpukan kotoran ini dibanding mereka yang memiliki bentuk menonjol (outie). Fenomena penumpukan kotoran yang mengeras di dalam pusar ini dikenal dalam dunia medis sebagai omphalolith atau batu pusar.

Penumpukan kotoran dan kelembapan tinggi menciptakan lingkungan ideal bagi bakteri serta jamur (Candida) untuk berkembang biak dengan cepat. Akibatnya, pusar akan mengeluarkan aroma tidak sedap, mengalami kemerahan, rasa gatal yang hebat, hingga iritasi kulit. Jika infeksi berlanjut, area pusar dapat membengkak, terasa nyeri saat tersentuh, bahkan mengeluarkan cairan bernanah yang memerlukan intervensi medis serta pengobatan antibiotik atau antifungal.

Cara merawat dan membersihkan bagian tubuh ini secara aman tanpa memicu iritasi sebaiknya dilakukan secara berkala saat mandi atau setidaknya dua hingga tiga kali seminggu.

Gunakan cotton bud atau kain lembut yang telah dibasahi air hangat dan sedikit sabun berformula lembut. Usap bagian dalam lekukan pusar secara perlahan dengan gerakan memutar tanpa menekan atau mengorek terlalu keras, karena lapisan kulit di dalam pusar sangat tipis dan sensitif terhadap luka.

Langkah terakhir yang tidak kalah krusial adalah keringkan area dalam pusar menggunakan handuk bersih atau kapas kering sebelum mengenakan pakaian. Jika tidak, sama saja membiarkan air tersisa di dalam lekukan, yang justru memicu kelembapan berlebih tempat jamur berkembang biak. Dengan perawatan yang cepat, lembut, dan konsisten setiap minggu dapat menjaga integritas kesehatan kulit sekaligus terhindar dari risiko infeksi yang mengganggu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....